Cerdas Berhuni Untuk Hidup Lebih Sehat

Oleh: Dini Kusumawardhani

EKSEKUTIF.com — Sebagai Kementerian yang berfokus pada pembangunan, Kementerian PUPR memiliki sasaran yang disebut Visium Kementerian PUPR 2030.

Di mana salah satunya adalah terwujudnya 100% smart living atau hunian cerdas.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR memiliki arah kebijakan yang meliputi  empat aspek.

Apa aspek itu?

Yaitu perwujudan permukiman layak huni, penerapan Bangunan Gedung Hijau (BGH), pembangunan permukiman tahan bencana, dan penerapan teknologi dan permukiman ramah lingkungan.

Artikel ini akan membahas salah satu aspek, yaitu BGH, dalam unit terkecil di dalam permukiman, yaitu hunian atau rumah tinggal.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, pandemi telah memaksa terjadinya perubahan besar-besaran dalam pola hidup manusia di berbagai aspek.

Bicara konteks kesehatan masyarakat, perilaku hidup bersih dan sehat terus menerus digaungkan oleh Pemerintah dalam rangka mencegah penyebaran virus Covid-19.

Ini mulai dari menggunakan masker, terutama di ruang tertutup dan di keramaian, hingga sering mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Namun, di samping itu, pernahkah kita terpikir bahwa kita juga dapat mengurangi potensi penyebaran Covid-19. Caranya dengan meninjau kembali hunian dan juga perilaku kita dalam berhuni?

Menurut Indian Green Building Council, polusi di dalam ruangan mencapai dua hingga lima kali lebih banyak daripada di luar ruangan.

Padahal, 90% hidup manusia dilakukan di dalam ruangan, terutama di masa pandemi dengan anjuran untuk lebih banyak beraktivitas di rumah.

Artinya, kualitas udara di dalam ruangan berperan penting dalam mewujudkan hunian yang sehat, terlepas saat pandemi ataupun tidak.

Hal itu turut diamini Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui hasil studinya yang menunjukkan bahwa kualitas udara dalam rumah yang baik dan ventilasi yang maksimal dapat menurunkan penyebaran virus Covid-19.

Misalnya apa?

Dalam penggunaan pengkondisi udara yang terlalu lama, tidak hanya boros energi, namun juga berpotensi menyebabkan tertumpuknya debu dan virus di dalam rumah.

Jika penghuni tidak membuka jendela dalam waktu-waktu tertentu untuk pertukaran udara.

Dalam kondisi anggota keluarga terpapar Covid-19 dan dianjurkan untuk isolasi mandiri, maka GBCI menyarankan untuk memastikan ruang isolasi harus merupakan ruang yang berjendela ke udara terbuka.

Untuk lebih maksimal, kipas angin dapat dipasang di ruang isolasi dan diarahkan ke jendela yang terbuka untuk membuang udara terkontaminasi ke luar rumah.

Lalu, bagaimana cara kita menghitung kebutuhan ventilasi alami di dalam rumah?

Menurut SNI 03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengondisian Udara pada Bangunan Gedung, ventilasi alami terdiri dari bukaan permanen, jendela, pintu, atau sarana lain.

Yang dapat dibuka dengan jumlah bukaan tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai ruangan yang membutuhkan ventilasi.

Selain itu, ventilasi juga harus menghadap ke halaman berdinding atau daerah yang terbuka ke atas (courtyard), teras terbuka, pelataran, atau sejenisnya.

Jika kita tinggal di rumah yang minim bukaan atau belum memenuhi persyaratan dari SNI tersebut, langkah yang dapat kita lakukan adalah dengan membuka jendela sesering mungkin ke arah ruang terbuka sehingga pertukaran udara dapat maksimal.

Membuka sesering mungkin bukaan di rumah juga dapat membantu mengurangi kelembapan di dalam rumah.

Kenapa?

Karena mengizinkan sebanyak mungkin cahaya matahari masuk ke dalam rumah sehingga meminimalisir pertumbuhan jamur pada permukaan dinding dan plafon rumah.

Pandemi tidak hanya mengubah peta arah kebijakan kesehatan masyarakat di dunia, namun juga di berbagai aspek, termasuk hunian kita.

Tidak melulu soal penggunaan teknologi canggih, meninjau ulang kebutuhan ventilasi alami di rumah untuk hidup yang lebih sehat dan nyaman pun juga merupakan upaya kita dalam berhuni secara cerdas.

Jangan lupa membuka jendela hari ini ya!

#

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.