Makan Malam di Kedubes Seychelles Bersama Dubes H.E Nico Barito

Tim EKSEKUTIF, Majalah MATRA dan TIRAS.id serta Indonesiantalk.com

H.E Mr Wavel Ramkalawan, Presiden Seychelles

EKSEKUTIF.com — H.E Nico Barito, Duta Besar yang juga Utusan Khusus Presiden Seychelles Untuk ASEAN. Ia sosok yang hangat dan bersahabat. Tak hanya bicara diplomatic trip, membangun ekonomi maritim dan pariwisata.

Pria ini laiknya coach dalam setiap perkataannya membangun motivasi. Atau malah semacam ustadz atau evangelis, yang kemudian melompat menampilkan diri sebagai orang bijak dan cendekia.

Sebagai seorang diplomat, Nico Barito tak hanya marketer yang terbaik bagi negara Seychelles. Negara yang hidup dari pariwisata, perikanan dan internasional bisnis.

Nico sosok pria multitalenta yang tak pernah berhenti berpikir untuk berbuat dengan ide-ide segar.

Makan Malam Bersama TIM EKSEKUTIF, yakni dari media cetak MATRA dan TIRAS.id serta Indonesiantalk.com

Nico jujur dan memberikan informasi dengan cara-cara yang baik.

Kita ngobrol, dalam undangan makan malam di kedubes, 26 April 2022 tadi malam, di kawasan Menteng Jakarta Pusat.

Kita baku bicara tentang hal-hal apa saja yang terlintas saat itu dalam sepeminuman “air putih”. Dari majalah Eksekutif, saya ditemani tim.

Ini merupakan bagian dari perkenalan lanjutan, saat kami berjumpa di Soft Lauching Smeshub Indonesia, di Grand Indonesia, Jakarta 25/3 2022.

Kala itu, pria berpostur tinggi besar ini memberi janji di panggung, untuk mendukung UKM Indonesia.

“Saya siap membantu UKM Indonesia menuju Seycehlles, menembus Eropa dan Afrika karena dari negara kami Indonesia zero tax,” ujar Nico Barito.

Pernah bekerja di Badan Dunia PBB dan di proyek Arun, demikian senang menjadi bagian dari hub yang akan mendukung UKM Indonesia.

Nico bercerita, negara Seychelles atau Seisenlensa, sebuah negara kepulauan yang mencakup 115 pulau di Samudera Hindia, sekitar 1.600 KM sebelah timur Afrika, dan sebelah timur Madagaskar yang terbuka untuk UKM Indonesia.

Ia sangat mendukung Ekonomi Biru Ekonomi Nasional Indonesia

Siang bekerja, atau terbang dari satu negara lain di Asean. Di malam bisa berhaha-hihi menciptakan medan tafsir yang luas, jauh melintasi apa yang dikerjakannya.

Ia menyuguhkan pelbagai referensi terhadap gagasan dari kegelisahannya serta terus ingin menularkan kesuksesan Seychelles, dalam membina pariwisata tanpa mengganggu kelestarian alam.

“Kami berpendapat dan mengupayakan berbagi pengalaman dengan pulau-pulau yang ada di Indonesia,” ujar pria yang juga menjadi garda terdepan dari orang-orang yang memikirkan dengan sangat serius pembangunan wilayah pesisir dan pulau terluar.

“Ada di Seychelles, sebuah pulau yang tak ada wifi. Di pulau ini, jauh dari teknologi, tapi malah  diminati turis Eropa, Rusia yang demikian sibuk, memilih destinasi liburan semacam ini,” ambassador yang juga sebagai pembina Ekonomi Biru ini memberi kesaksian.

Diplomat handal Menjalin Relasi, Bergaul atau Bersosialisasi Dengan Luwes

Walau baru dua kali pertemuan, rasa atau “kualitas” pertemanan seorang Nico sangat akrab dan guyub; diplomats are good at masquerading.

Dunia diplomasi membawa Nico bergaul tak hanya menteri di republik ini, tapi bupati bahkan para content creator ternama, semacam Rafie Achmad.

Obrolan tak hanya tentang situasi terkini, namun juga mengenang masa lalu saat Indonesia dalam teknologi analog, jaman masih starko.

Nico Rajin Mempromosikan Budaya Indonesia Juga

Dari beberapa negara ke turis yang datang ke Seychelles.  Sesekali, misalnya, Turis di sana disuguhi tarian Nias atau budaya yang unik dari Indonesia.

Jadi wisatawan dunia, menginjak Seychelles bukan saja karena negara ini menjadi lokasi kontes miss world.

Seychelles mulai dikenal luas setelah jadi tuan rumah kontes ratu kecantikan Miss World. Mereka menyelenggarakan kontes tersebut dua tahun berturut-turut dari 1997-1998.

Saat itu karena keindahan luar biasa tempat ini, Seychelles mendapat sorotan positif dari seluruh media yang meliput.

Usai kontes ratu kecantikan selesai, pariwisata di Seychelles meningkat tajam dan jadi mesin penggerak utama perekonomian.

Pemerintah Seychelles menyebut kebijakan ini merupakan dukungan mereka terhadap perlindungan ekosistem dan juga kebijakan konservasi.

Seychelles merupakan rumah bagi kura-kura terbesar di dunia yang hidup di alam liar. Hewan dengan jenis Aldabra giant diberi nama Esmeralda.

Berat Esemeralda mencapai 304 kilogram. Ia saat ini berada di Pulau Burung Seychelles.

Ada beberapa program pemerintah Seychelles, dalam memanfaatkan kearifan lokal di pulau-pulau. Mengenai keindahan pantai-pantai serta alam yang luar biasa indah.

Secara geografis RI dan negara Seychelles sama-sama kepulauan.

Jika Sechelles, negara dengan kepulauan kecil bisa meraup penghasilan yang layak karena manajemen pulau secara mumpuni, Indonesia juga pasti bisa.

Pemerintah Seychelles memutuskan setengah dari wilayah negara itu difungsikan sebagai taman nasional dan pusat konservasi.

Kerja sama konkret dilakukan dan diimplementasikan, terkait cara baik dan benar dalam mengelola pariwisata, dilakukan pemerintah Seychelles dengan BKKBN, untuk membangun lingkungan sehat, keluarga sejahtera (LSKS).

Josua dan Dara, staf dari Seychelles memaparkan gaya hidup memelihara alam, dituangkan juga ke Indonesia dalam program LSKS.

Aparat BKKBN dengan Republik Seychelles melakukan inovasi,  pembangunan karakter dari bawah, melatih para remaja sampai lansia, jangan membuang sampah dan kotoran ke sungai serta memperkenalkan azas ekonomi sirkular.

Dengan lokasi proyek percontohan memilah sampah di lokasi proyek percontohan yang dilaksanakan ke Kacamatan Wates dan Panjaitan, Kabupaten Progo  Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak terasa waktu cepat berlalu, malam sudah larut. Kami harus berpisah. Makan malam dengan ikan Barakuda, wine merah serta musik live harus berkesudahan.

Dari kedutaan Seycelles, lokasi yang dirindukan wisatawan  Eropa, Rusia, Korea sebagai surganya atau lifestlyle orang berpunya, kami harus kembali pulang, masuk dalam dunia nyata.

Tentunya dimulai dengan perilaku, “jaga alam dan alam menjaga kita”. Membangun kebudayaan membangun peduli lingkungan harus di level praktek, menanam dan merawat pohon.

Ya, termasuk mengubah perilaku manusia terhadap sampah plastik. Tidak membuang sampah sembarangan, dalam konteks cinta lingkungan sejatinya harus terus ditumbuhkan.

Negara Seycheless bisa, mengapa Indonesia tidak.

 

 

Klik juga: Jalin Kolaborasi ke Negara Seychelles

 

BACA: majalah MATRA edisi april 2022

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.