EKSEKUTIF.com — Perhumas: AI Kini Jadi Mitra Berpikir, Ubah Cara Kerja Praktisi Humas
Forum PR Meet and Brew yang diinisiasi Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menegaskan perubahan cara pandang praktisi komunikasi terhadap Artificial Intelligence (AI).
Teknologi tersebut kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat, melainkan telah berkembang menjadi mitra berpikir dalam proses kerja kehumasan.
Kegiatan yang berlangsung di Other Half Cafe, Jumat (24/4/2026), menghadirkan diskusi selama hampir dua jam yang diikuti praktisi humas dari berbagai latar belakang, baik senior maupun generasi muda.
Dalam forum itu mengemuka pandangan bahwa interaksi manusia dengan AI telah bergeser. Jika sebelumnya AI digunakan untuk menjawab pertanyaan, kini ia lebih sering menjadi rekan diskusi dalam merumuskan ide dan strategi komunikasi.
Pendiri Evello Big Data Analytics, Dudy Rudianto, mengatakan pemanfaatan data digital sebenarnya telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada 2012, ia telah menggunakan data percakapan publik, termasuk dari platform YouTube, untuk membaca sentimen masyarakat.
“Dengan data, kita bisa masuk lebih dalam,” ujarnya. Menurut dia, pendekatan berbasis data yang dahulu dianggap baru kini menjadi fondasi dalam praktik komunikasi modern.
Perubahan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga cara kerja manusia. AI memungkinkan pengambilalihan pekerjaan teknis sehingga praktisi memiliki lebih banyak ruang untuk menyusun strategi yang lebih komprehensif.
Dewan Pakar Perhumas, Yoris Sebastian, menilai AI tidak menggantikan peran manusia, melainkan memperkuatnya. “AI mempercepat proses, tetapi arah tetap ditentukan manusia,” kata dia.
Ia menambahkan, dalam sektor kreatif, pemanfaatan AI tetap memerlukan sentuhan manusia agar tidak kehilangan nilai dan karakter karya. Menurutnya, tantangan terbesar justru dihadapi oleh pihak yang tidak mau beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Diskusi yang dipandu Wakil Ketua Umum Perhumas, Dr Dian Agustine Nuriman, juga menyoroti tuntutan baru terhadap profesi humas. Selain kemampuan komunikasi, praktisi kini perlu memahami data, algoritma, serta perilaku digital publik.
AI pun dinilai telah menjadi bagian dari alur kerja sehari-hari, bukan lagi perangkat tambahan. Sejumlah peserta bahkan menyebut AI sebagai “perpanjangan kapasitas kognitif” yang membantu pengambilan keputusan secara lebih cepat dan akurat.
Forum PR Meet and Brew dinilai menjadi ruang refleksi bagi praktisi humas dalam menghadapi perubahan tersebut. Perhumas menilai, ke depan, tantangan profesi ini bukan lagi sekadar beradaptasi dengan AI, tetapi bagaimana memanfaatkannya secara optimal dalam mendukung strategi komunikasi.






