Waspadai Ciri-Ciri Hoaks Agar Terhindar Bahayanya

Gambar: https://covid19.go.id/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Cepatnya penyebaran informasi di era internet melalui medium perangkat komunikasi seperti ponsel pintar dan media sosial membuat masyarakat harus lebih kritis dalam menerima informasi. Masyarakat harus mewaspadai hoaks atau berita palsu dengan mengenali ciri-cirinya.

“Hal ini meresahkan, apalagi di tengah kondisi pandemi hoaks seputar kesehatan banyak beredar,” ujar Fibra Trias Amukti, Editor in Chief Mommies Daily saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I.

Hoaks merupakan informasi bohong yang memiliki tujuan membentuk opini yang salah, menipu, menghasut, menyakiti, bersifat provokasi dan memecah belah dan menimbulkan keresahan bagi yang membaca maupun mendengarnya.

Di masyarakat hoaks bisa menimbulkan relasi sosial yang tidak baik, bisa memunculkan saling ejek, saling debat, saling benci dan menimbulkan konflik hingga perpecahan.

Hoaks bisa dikenali dari sumbernya yang tidak jelas, memunculkan kebencian, serta cenderung tidak netral dan memihak.

Hoaks biasanya memanfaatkan fanatisme terhadap agama, memiliki judul headline yang provokatif, minta untuk diviralkan, serta sering memanipulasi foto serta keterangan.

Dampak hoaks ini tidak bisa diabaikan bahkan bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang karena menimbulkan rasa cemas, panik yang berlebihan, bahkan stres, takut luar biasa, dan mudah marah.

Setiap orang mungkin bisa menjadi penyebar hoaks, jika tidak kritis dalam menerima informasi.

Sehingga setiap orang haruslah menjadi pembaca cerdas dengan membaca keseluruhan artikel, cek kembali siapa penulisnya, cek situsnya, cek nara sumber yang dikutip dalam tulisan, cek keaslian foto, dan cari berita pembanding.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Maria Ivana, Graphic Designer J-CO, Sophie Beatrix, seorang Psikolog Praktisi, Eko Ariesta, CEO Enterpro.id dan Manda Utoyo, seorang Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pasang Iklan? Chat Sekarang