Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Gambar: https://adv.kompas.id/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi dan tidak ada lagi batas jarak, waktu, maupun wilayah negara, serangan globalisasi ini membuat kebudayaan negeri sendiri terancam kalah populer.

“Kita nggak asing lagi melihat budaya asing. Seperti yang sedang mendunia Korean wave, budaya Korea lewat K-Pop maupun drama-dramanya dan beraneka macam kulinernya,” sebut Dessy Natalia, Assistant Lecturer & Industrial Placement Staff UBM, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I,  pada Kamis (25/11/2021).

Dia mengungkapkan, mempelajari budaya asing sangat baik sehingga setiap orang akan memahami tengah berada dalam keragaman.

Bahwa saat ini masyarakat hidup di tengah budaya yang majemuk, sehingga lebih sadar untuk bertoleransi dan mampu menghargai perbedaan yang ada.

Namun ada ancaman globalisasi dengan masuknya budaya-budaya asing lewat ruang digital. Tak terhindarkan jika tidak bisa menjaga dan mewariskannya, maka budaya Indonesia bisa luntur.

Terlebih budaya merupakan sesuatu yang akan berkembang, sehingga jika tidak dijaga bisa hilang. Jangan sampai generasi berukutnya tidak mengenal budayanya sendiri.

Selain itu, Indonesia merupakan negara majemuk, multikultural dan demokratis. Sebenarnya hal tersebut merupakan sebuah keunikan yang dilihat sebagai kekayaan bagi bangsa lain.

Dari 275 juta populasi penduduk, Indonesia memiliki 1331 suku bangsa, sebanyak 716 bahasa daerah, 6 agama, 245 kepercayaan.

Wujudnya pun hadir dalam pakaian adat, tarian daerah, alat musik, senjata, hingga makanan daerah yang menjadi kekayaan sangat bernilai harganya.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Meiskasa, Recruitment Officer Permata Bank, Intan Maharani, COO PositiVibe, Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor, dan Louiss Regi, Content Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pasang Iklan? Chat Sekarang