PREMIUM KONTEN

Survey F5 :   96 % Pengguna Aplikasi  di Asia Pasific Memilih Kenyamanan daripada Keamanan, 75% Konsumen tak Merasa Bertanggung Jawab Terhadap Keamanan Data Pribadi Mereka

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

 

Penggunaan Aplikasi saat ini tak bisa dipungkiri  faktanya cenderung meningkat. Selain tuntutan di era digitalisai yang sudah menjadi suatu keniscayaan, hal terlebih saat ini didorong pula oleh kondisi di masa pandemi yang memicu lebih banyak penggunaan aplikasi untuk berbagai keperluan.

Terkai dengan hal itu, F5 yang merupakan pemimpin dalam bidang keamanan aplikasi telah melakukan survey yang bertajuk yang bertajuk Curve of Convenience 2020: The Privacy-Convenience Paradox.

Hasil survey F 5 tersebut telah dipaparkan  oleh Andre Iswanto, Senior Manager, Solutions Engineering, F5 Indonesia,melalui acara virtual media briefing , Kamis ( 13/08/2020 ).

Beberapa Hasil survey  tersebut dinataranya mengungkapkan bahwa sembilan dari sepuluh orang (96%) memilih kenyamanan dan pengalaman pengguna yang mulus dan tanpa gangguan daripada keamanan. Temuan lainya mengungkapkan bahwa  43% konsumen Asia Pasifik berharap perusahaan melindungi data mereka, dengan 32% responden meyakini hal tersebut tanggung jawab pemerintah.

Dari hasil tersebut terungkap bahwa 75% Konsumen Asia Pasifik tak merasa bertanggung Jawab terhadap keamanan data pribadi mereka. Pengguna aplikasi kerap tidak menghiraukan pembobolan besar-besaran demi pengalaman pengguna yang mulus. Bahkan terungkap bahwa tujuh dari sepuluh konsumen secara sadar membagikan atau menyimpan data pribadi di dalam aplikasi untuk mendapatkan pengalaman yang sesuai keinginan mereka.

Sementara temuan-temuan lain menurut Andre terkait dengan Indonesia diantaranya  bahwa Indonesia tergolong sebagai lahan subur mobile banking karena 62% dari 703 responden Indonesia mempercayai aplikasi perbankan. Mereka juga menerima permintaan akses dari aplikasi (73%) dan berbagi data (75%), meskipun tingkat infeksi malware ke perangkat (22%) merupakan yang tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik.

Temuan-temuan  tersebut mengungkapkan beratnya upaya yang harus dilakukan untuk menemukan keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan di mana perusahaan dan pemerintah memikul tanggung jawab.

Di lingkungan yang menantang seperti saat ini, khususnya ketika tengah menghadapi Covid-19 serta mengikuti perubahan kebiasaaan digital yang menyebabkan banyak sistem dan penggunanya terekspos, perusahaan dan pemerintah pun ditekan untuk memperkuat kerangka keamanan mereka dan memperketat regulasi serta kepatuhan terhadap kebijakan.

Sementara itu, menurut pakar industri, Ankit Saurabh, Assistant Lecturer di School of Engineering and Technology, PSB Academy, dengan Covid-19 yang mengubah banyak aspek rutinitas, sebagian besar dari kita telah beradaptasi menuju kenormalan baru yang melibatkan working-from-home hingga aplikasi online untuk perbankan, hiburan, belanja, dan layanan antarmakanan yang telah menjadi cara utama mengakses barang dan jasa.

“Dalam situasi yang krusial seperti ini, perusahaan-perusahaan harus bekerja dengan lebih keras dalam membenahi kekuatan keamanan mereka untuk melindungi data pelanggan dan internal perusahaan,” ungkapnya.

Agar terus bisa kompetitif dalam kondisi seperti ini, berbagai perusahaan harus terus menyediakan pengalaman digital yang unik, berperforma tinggi, dan aman secara konsisten sembari memenuhi persyaratan dan kewajiban keamanan yang rumit. Mereka juga harus memastikan pengalaman pengguna yang nyaman, mulus, dan mudah digunakan. Guna mencapai tujuan ini, perusahaan harus berkaca pada sumber daya yang belum mereka sentuh, yakni para pelanggan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 27% responden bahkan tidak menyadari terjadinya pembobolan pada situs pemerintah atau aplikasi yang banyak digunakan. Dengan begitu, sangat penting untuk memperlakukan pelanggan seperti sekutu dalam mencapai tujuan bersama untuk pengalaman digital yang menyenangkan dan aman. Pengguna, jika dibekali dengan informasi yang tepat, bisa meningkatkan kewaspadaan mereka untuk berbagi data atau bahkan menuntut transparansi mengenai bagaimana data mereka akan digunakan.

“Sangat penting bagi para perusahaan-perusahaan untuk membekali tenaga kerja mereka dengan skill yang diperlukan, selain melibatkan pelanggan dalam perjalanan keamanan-kenyamanan ini untuk menghentikan ancaman siber,” kata Saurabh.

Adam Judd, Senior Vice President, Asia Pasifik, China, dan Jepang di F5 menambahkan, di saat pandemi mengubah hidup kita, perusahaan-perusahaan harus meningkatkan upaya transformasi digital mereka. Konsumen menuntut lebih banyak dari aplikasi yang biasa mereka gunakan untuk bermain, bekerja, dan terhubung.

Untuk mengintegrasikan kenyamanan dan keamanan, perusahaan harus melibatkan pelanggan secara proaktif di semua tahap pengembangan aplikasi, bukan hanya pada akhirnya saja. Khususnya, di masa ketika konsumsi aplikasi dan rentannya keamanan terus meningkat dari hari ke hari. Bermitra dengan pelanggan berarti industri akan makin tumbuh dan perusahaan, bersama mitra digital mereka, bisa menciptakan solusi yang lebih baik untuk pengalaman mulus dan aman, kapan saja, setiap saat.

“Pada akhirnya, menunjukkan pada pengguna apa yang dipertaruhkan akan membuat mereka merasa harus terlibat untuk melindungi dirinya sendiri,” jelas Adam.

Di saat pelanggan memilih untuk menyerahkan tanggung jawab keamanan digital ke perusahaan dan pemerintah, sangat penting bagi perusahaan untuk terus mengedukasi dan bermitra dengan pengguna mengenai konsekuensi pilihan untuk mengorbankan data atau privasi demi pengalaman yang lebih mulus.

Dengan menjalin kemitraan, perusahaan bisa dengan mudah memanfaatkan solusi teknologi yang lebih canggih untuk mengimplementasikan keamanan yang lebih kokoh sambil memberikan pengalaman tanpa friksi yang diharapkan konsumen.

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.