EKSEKUTIF.com — Jaket Ojol, Dari Jalanan ke Catwalk, dari Stigma ke Fashion Statement
Ada yang janggal sekaligus ironis. Di pintu masuk Blok M Plaza, sebuah pusat belanja di Jakarta Selatan, satpam dengan tegas menegur: “Maaf, silakan jaketnya dilepas atau dibalik. Tidak boleh memakai jaket itu.”
Satpam mall Senayan City lebih humanis dan membolehkan. Tatkala dijelaskan, jaket keren ini hanya mode fashion. Bukan mau narik gojek atau mau belanja. Justru kita makan atau belanja di mall ini.
Jaket yang dimaksud bukanlah jaket lusuh, bukan pula pakaian dengan simbol provokasi. Hanya sehelai jaket hijau khas Gojek atau Grab, yang sehari-hari kita lihat melintas di jalanan kota.
Peribahasa “Jangan menilai/melihat buku dari sampulnya” dalam versi bahasa Inggris adalah “Don’t judge a book by its cover”.
Mengapa sepotong kain hijau itu menimbulkan begitu banyak “alarm” sosial?
Di satu sisi, manajemen mal berdalih soal aturan internal. Namun, di sisi lain, kita membaca jelas sebuah stigma: jaket itu identik dengan “kelas pekerja jalanan” yang dianggap tidak sepadan dengan atmosfer mall.
Padahal, siapa pun bisa membeli jaket tersebut di e-commerce dengan harga sekitar Rp300.000. Bahkan turis asing di Bali justru memburunya, memakainya, dan menjadikannya tren eksotis.
Inilah paradoks urban kita: sesuatu yang lahir dari keringat rakyat pekerja di jalanan justru bisa berubah menjadi fashion statement di mata orang asing.
Di Bali, viral video turis asing berlenggak-lenggok dengan jaket ojol. Bagi mereka, jaket itu bukan simbol pekerjaan, melainkan gaya.
Ada yang bahkan mengira jaket hijau itu “seragam gangster terkuat Indonesia”—sebuah salah kaprah yang justru menambah daya tariknya.
Dari kacamata pop culture, jaket ojol mendadak naik kasta. Dari sekadar seragam kerja, kini ia hadir di panggung konser hingga gaya jalanan internasional.
Di Jakarta, jaket yang sama bisa membuat seseorang dipandang sebelah mata.
Stigma lusuh, atau tak belanja. Kastanya pakai jaket ojol disebut Rojali merupakan akronim dari “rombongan jarang beli” atau rohana berarti “rombongan hanya nanya”.
Keduanya menggambarkan fenomena pengunjung mal yang datang beramai-ramai, namun hanya melihat-lihat atau bertanya, tanpa melakukan transaksi pembelian yang berarti.
Kebijakan manajamen mall yang meng-anaktirikan jaket ojol, menyentil kita tentang bagaimana masyarakat masih mudah membedakan manusia berdasarkan atribut luar.
Bahwa pakaian bisa menjadi batas tak kasat mata yang memisahkan “yang diterima” dan “yang ditolak”.
Padahal, orang yang mengenakan jaket itu mungkin bukan driver, mungkin hanya ingin tampil nyentrik, atau sekadar merasa bangga dengan identitas lokal yang unik.
Kebijakan Blok M Plaza itu tak sekadar soal pakaian, tapi tentang refleksi lebih besar: apakah kita benar-benar sudah dewasa dalam memandang keberagaman gaya hidup?
Apakah kita sudah lepas dari kecenderungan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan simbol-simbol sederhana?
Jaket ojol hari ini bukan hanya identik dengan pekerjaan, tapi juga ikon budaya. Ia lahir dari kerja keras jutaan driver yang menjadi denyut nadi mobilitas kota.
Tahukah bahwa lahir sebagai tren global, dikenakan para turis yang justru melihat keunikan di baliknya.
Dari jalanan hingga mall, dari stigma hingga fashion statement, jaket hijau ojol memberi pelajaran sederhana: kadang, yang kita anggap “biasa” atau “rendahan” bisa saja dilihat dunia luar sebagai sesuatu yang keren dan membanggakan.
Pertanyaannya: maukah kita ikut merayakan simbol itu, atau justru sibuk menolaknya di pintu masuk mall?







