Perry Tristianto Tedja: Jangan Wariskan Bisnis. Wariskan Keberanian Menciptakan Peluang

EKSEKUTIF.comPerry Tristianto Tedja: “Jangan Wariskan Bisnis. Wariskan Keberanian Menciptakan Peluang”

Ada pengusaha yang bangga ketika anaknya meneruskan kerajaan bisnis keluarga. Ada pula yang bermimpi perusahaannya menjadi konglomerasi lintas generasi. Perry Tristianto Tedja justru berpikir sebaliknya.

“Kamu mau meneruskan bisnis saya? Silakan. Tapi beli.”

Ia tertawa kecil ketika mengucapkannya. Tidak ada nada bercanda. Bagi pria yang pernah dijuluki Raja Factory Outlet dan kini dikenal sebagai pengembang destinasi wisata, kuliner, hingga mentor untuk para UKM dan banyak yang sudah menjadi pensiunan ini, bahwa isnis bukan warisan, melainkan proses belajar yang harus dimiliki dengan tanggung jawab.

Selama hampir tiga jam berbincang dengan Majalah EKSEKUTIF, Perry tidak banyak berbicara tentang omzet atau valuasi perusahaan. Ia justru lebih sering mengulang tiga kata: manusia, pasar, dan keberanian.

Menurutnya, teknologi penting, investor penting, sistem penting. Tetapi ada sesuatu yang tak bisa digantikan mesin: hospitality. Keramahan, kepedulian, dan kemampuan memahami manusia.

Di usia yang matang, Perry masih memiliki target sederhana. Setiap hari bertemu orang baru.

“Dari obrolan dengan orang baru, kadang lahir bisnis baru.”

Berikut petikan wawancara lengkap Majalah EKSEKUTIF.

Banyak orang mengenal Anda sebagai Raja Factory Outlet, lalu beralih ke wisata dan kuliner. Apa sebenarnya benang merah semua bisnis Perry Tristianto Tedja?

Orang bilang saya sering ganti bisnis. Padahal saya tidak pernah berubah. Yang berubah itu kebutuhan pasar. Dulu orang datang ke Bandung untuk belanja pakaian. Saya ikut melayani kebutuhan itu.

Sekarang mereka datang mencari pengalaman, tempat wisata, tempat makan, oleh-oleh. Ya saya ikut ke sana. Produk boleh berubah, tetapi market saya tetap sama.
Saya mengikuti manusia.

Banyak pengusaha sibuk mengikuti tren. Anda justru mengatakan jangan ikut pasar?

Kalau semua orang masuk ke bisnis yang sama, saya malah berpikir bisnis berikutnya apa. Saya selalu bilang, jangan sibuk mengikuti pasar. Akan tetapi, ayo kita ciptakan pasar baru. Kalau hanya ikut-ikutan, kita akan selalu terlambat.

Sekarang era digital dan AI. Apakah teknologi menjadi kunci bisnis masa depan?

Teknologi itu alat. Yang utama tetap manusia. Dalam bisnis Hospitality itu, tidak bisa digantikan teknologi. Bangunan bisa ditiru. Konsep bisa ditiru. Produk bisa ditiru. Tapi cara kita memperlakukan pelanggan sulit ditiru.

Kalau pelanggan merasa dihargai, dia akan kembali.

Berarti Anda tidak terlalu tertarik membangun bisnis yang serba otomatis seperti franchise besar?

Kalau franchise internasional seperti McDonald’s atau Kentucky, itu memang sistem dan alat. Mereka hebat.
Tapi jiwa saya bukan di sana. Saya tetap entrepreneur.

Saya mengandalkan manusia. Saya suka turun langsung. Saya suka memperbaiki sesuatu hari ini juga, tidak perlu rapat panjang.

Anda tidak takut konsep bisnis Anda ditiru?

Semua yang saya bikin sudah banyak yang meniru. Silakan saja. Saya tidak takut.
Karena yang saya jual bukan sekadar tempat. Yang saya jual adalah hospitality. Dan itu sangat sulit dicopy.

Benarkah, Anda tidak terlalu percaya mencari SDM yang sudah jadi?

Saya tidak mencari orang yang paling pintar. Saya mencari orang yang mau tumbuh bersama.
Kalau bikin rumah makan, saya lebih suka mencari ibu-ibu yang memang bisa masak daripada lulusan terbaik yang tidak pernah masuk dapur.
Pintar bisa dibangun bersama. Pengalaman bisa dicari bersama.

Anda pernah mengatakan ke para pensinan, “lupakan passive income.” Mengapa?

Ha-ha-ha…

Karena memang tidak ada passive income. Semua harus dikelola. Kalau punya restoran harus tahu pelanggan maunya apa. Kalau punya properti harus tahu bagaimana mengelolanya. Entrepreneur harus bergerak terus. Kalau diam, selesai.

Bagaimana Anda memandang kegagalan dalam bisnis?

Cut loss harus cepat. Kalau tidak untung, ya tutup. Ngapain diteruskan? Banyak orang terlalu cinta pada bisnisnya. Padahal bisnis itu alat. Jangan sampai alat menghabiskan hidup kita.

Bagaimana hubungan bisnis dengan aset?

Saya belajar dari pengalaman. Keuntungan besar sering kali datang dari aset. Bisnis menghasilkan cash flow. Aset menjadi tabungan. Dulu saya juga pernah salah. Sekarang saya melihat bisnis dan aset harus berjalan bersama.

Anda punya pandangan yang unik tentang regenerasi bisnis keluarga. Anak tidak otomatis menjadi penerus?

Tidak. Kalau anak saya suka satu bisnis, beli saja. Saya jual.Dia punya. Dia mengembangkan dengan caranya sendiri.
Menurut saya, anak jangan sekadar masuk perusahaan orang tuanya. Dia harus mengembangkan perusahaan itu dengan passion dan zamannya sendiri. Mereka boleh menjadi generasi pertama untuk versinya sendiri.

Jadi tidak ada konsep kerajaan bisnis keluarga?

Saya tidak berpikir seperti drama Korea. Ha-ha-ha…
Yang penting bisnisnya berkembang. Kalau anak punya cara baru, teknologi baru, sistem baru, silakan. Saya tidak mau memaksakan cara saya.

Apakah Anda masih melihat peluang besar di IKN?

Saya melihat market. Bukan gedung pemerintahnya. Orang datang ke sana pasti butuh hiburan, makan, oleh-oleh, tempat berkumpul. Saya selalu melihat manusianya. Kalau ada manusia, ada kebutuhan. Kalau ada kebutuhan, ada bisnis.

Anda dikenal aktif membimbing UKM dan pensiunan. Apa yang selalu Anda sampaikan?

Jangan takut memulai kecil. Kehebatan saya justru karena berani bisnis kecil. Tidak perlu langsung investasi besar.
Cari yang sudah ada. Perbaiki. Make up sedikit. Kasih konsep baru. Jalan. Jangan terlalu banyak teori.

Di usia sekarang, apa target pribadi Perry Tristianto Tedja?

Saya punya target sederhana. Setiap hari harus bertemu orang baru. Saya senang mendengar cerita orang.
Kadang dari satu kalimat muncul ide bisnis. Saya tidak punya hobi mengoleksi mobil mewah.
Hobi saya ngobrol.Karena setiap orang membawa pengalaman yang berbeda.

Terakhir, apa warisan terbesar yang ingin Anda tinggalkan?

Bukan perusahaan. Bukan gedung. Bukan aset. Saya ingin semakin banyak orang Indonesia berani menjadi entrepreneur. Berani mencoba.Berani gagal.Berani berubah. Dan yang paling penting…

Jangan sibuk mengikuti pasar. Jadilah orang yang menciptakan pasar.

—–

Ada satu kalimat Perry Tristianto Tedja yang terus terngiang setelah wawancara usai. Bukan soal aset, bukan pula tentang keuntungan. “Anak jangan masuk perusahaan orang tua. Anak harus mengembangkan perusahaan dengan zamannya sendiri.”

Barangkali, di situlah filosofi hidup seorang entrepreneur sejati. Ia tidak sibuk membangun dinasti. Ia membangun manusia. Tidak terlalu khawatir idenya ditiru, sebab ia percaya bahwa ide hanya permulaan. Yang menentukan umur sebuah bisnis adalah keberanian pemiliknya untuk terus turun ke lapangan, membaca perubahan, dan melayani manusia.

Di tengah zaman yang memuja otomatisasi dan kecerdasan buatan, Perry justru mengingatkan sesuatu yang sederhana: teknologi boleh berkembang, tetapi bisnis pada akhirnya tetap tentang manusia.

Dan mungkin, itulah warisan paling berharga yang ingin ia tinggalkan. Bukan kerajaan bisnis, melainkan keberanian untuk memulai lagi, menciptakan pasar baru, dan terus bertemu orang-orang baru setiap hari.

Klik juga: Ngobrol Penuh Inspirasi Bersama Perry Tristianto Tedja di studio Dai TV – Harian Kami


——————–