EKSEKUTIF.com — Dari Bengkel Dunia ke Panggung Mode: Bisakah Sepatu Indonesia Tembus Pasar Global Lewat MICAM Milano?

Di tengah hiruk-pikuk pameran Fiera Milano Rho, Italia, ribuan pengunjung dari 130 negara bergerak lincah di antara stan-stan mewah yang memajang sepatu dengan desain avant-garde.
Ini adalah MICAM Milano, pameran alas kaki paling bergengsi di planet ini. Namun di antara dominasi brand Italia dan Perancis, ada satu pertanyaan besar yang menggantung dari ribuan kilometer jauhnya: kapan nama Indonesia akan sejajar di panggung ini?
Giorgio Possagno, CEO MICAM, berdiri di tengah pusaran mode global itu dengan keyakinan. “MICAM bukan sekadar trade show,” ujarnya.
“Ini adalah platform dinamis untuk bisnis dan visi strategis, tempat di mana keunggulan manufaktur bertemu dengan tren baru, teknologi, dan model distribusi masa depan.” Kalimatnya seperti sebuah undangan tersirat bagi negara-negara produsen yang ingin bertransformasi.
Indonesia, dengan kapasitas produksi lebih dari 1 miliar pasang sepatu per tahun, adalah raksasa yang selama ini tidur di mesin jahit.
Data Asosiasi Persepatuan Indonesia menempatkan Tanah Air di posisi empat besar produsen dunia. Nilai ekspornya pun gemuk: sekitar US$6,4 miliar pada 2023, mengalir ke Amerika, Eropa, hingga Timur Tengah.
Lalu, di mana letak masalahnya?
“Indonesia sudah menjadi salah satu produsen sepatu terbesar di dunia. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah,” kata Eddy Widjanarko, Ketua APRISINDO, dengan nada lugas.
Para pengusaha lokal mengangguk paham. Selama ini, kekuatan Indonesia ada di hulu: menjadi original equipment manufacturer (OEM), mesin produksi bagi brand-brand internasional. Sepatu dengan label “Made in Indonesia” memang membanjiri pasar dunia, tetapi nama besar dan margin keuntungannya dinikmati oleh pemilik merek dari negara lain.
“Ini soal penguatan desain, branding, dan akses pasar,” tegas Eddy. “Platform global seperti MICAM Milano bisa menjadi pintu masuk.”
Di sinilah MICAM menawarkan lebih dari sekadar kontrak dagang. Pameran yang dijadwalkan kembali bergulir pada 13–15 September 2026 ini adalah etalase masa depan.
Lewat program seperti MICAM Next, para pelaku industri diajak menyelami masa depan ritel, teknologi ramah lingkungan, dan keberlanjutan—isu-isu yang kini menjadi tiket masuk ke pasar kelas atas.
Potensi Indonesia sebenarnya tak hanya di sepatu. Ekosistem kulitnya mengakar kuat. Garut, Magetan, Yogyakarta, hingga Bali adalah gudangnya craftsmanship dengan teknik tradisional yang menghasilkan tas, aksesori, dan produk kulit berkualitas tinggi. Nilai ekspor produk kulit pun tembus lebih dari US$1 miliar per tahun.
Jadi, untuk bisa bersaing di ajak seperti MICAM, pengrajin Garut dan desainer muda Yogyakarta harus bisa bercerita. Mereka harus mampu mengemas narasi budaya, inovasi material, dan etika produksi yang berkelanjutan—sesuatu yang dicari oleh buyer dan jurnalis mode internasional.
Panggung MICAM Milano adalah cermin: di sana, Indonesia bisa melihat bagaimana para pesaing membangun identitas, mendesain sesuai tren global, dan memasarkan produk dengan percaya diri.
Bagi para peritel Tanah Air, kehadiran di pameran ini bukan sekadar jalan-jalan bisnis. Mereka bisa membaca arah mode dunia yang akan mempengaruhi selera konsumen di Jakarta, Surabaya, atau Bali.
Sedangkan bagi produsen lokal, ini adalah peluang langka untuk menjajal nyali: mampukah produk buatan sendiri bersaing di kancah paling bergengsi?
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia mampu memproduksi. Pertanyaannya adalah: apakah para pemain industri di Tanah Air siap mengambil risiko untuk berhenti menjadi “bayang-bayang” dan tampil sebagai “bintang” dengan identitasnya sendiri?
MICAM Milano telah membuka pintunya. Kini, tinggal langkah kaki para pengusaha Indonesia yang menentukan, apakah akan sekadar lewat atau benar-benar masuk ke ruang utama panggung mode dunia. [*]








