Bank Indonesia Batasi Pembelian Dolar AS Maksimal US$ 50.000/Bulan, Benarkah? .

EKSEKUTIF.comMenahan Arus Dolar, Menjaga Nafas Rupiah

Di tengah riuh pasar global yang kian tak menentu, Bank Indonesia memilih langkah yang lebih ketat: membatasi pembelian valuta asing.

Bukan sekadar angka yang dipangkas, melainkan sinyal bahwa otoritas moneter sedang bersiap menghadapi gelombang yang lebih besar.

Mulai 1 April 2026, batas maksimum pembelian valas terhadap rupiah dipotong setengah—dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu per pelaku per bulan.

Kebijakan ini diumumkan Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers virtual, Selasa, 17 Maret 2026. Tujuannya lugas: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang mulai goyah.

Pada 16 Maret 2026, rupiah tercatat di level Rp 16.985 per dolar Amerika Serikat.

Angka itu mencerminkan pelemahan 1,29 persen dibandingkan akhir Februari. Di balik statistik yang tampak dingin, ada kecemasan yang lebih luas—tentang arus modal, sentimen pasar, dan bayang-bayang konflik global yang belum mereda.

Namun, BI tidak hanya menekan dari satu sisi. Di saat pembelian dolar dipersempit, ruang lindung nilai justru diperlebar.

Batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dinaikkan dari US$ 5 juta menjadi US$ 10 juta per transaksi.

Demikian pula dengan swap valas. Kebijakan ini seperti memberi napas lebih panjang bagi pelaku usaha yang membutuhkan kepastian di tengah fluktuasi.

Langkah lain menyasar lalu lintas devisa. BI menurunkan ambang batas kewajiban dokumen pendukung transfer dana keluar negeri dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu.

Dengan kata lain, pengawasan diperketat. Setiap dolar yang keluar kini diminta lebih transparan.

Semua ini terjadi dalam lanskap global yang sedang bergeser. Konflik di Timur Tengah, yang merambat menjadi ketidakpastian ekonomi, ikut menekan mata uang negara berkembang. Rupiah, seperti banyak mata uang lain, berada di garis depan tekanan itu.

Perry menegaskan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas. Pernyataan yang terdengar normatif, tapi di baliknya tersimpan pesan: ruang manuver makin sempit, dan kehati-hatian menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Dalam logika pasar, pembatasan sering dibaca sebagai rem darurat. Tapi bagi bank sentral, ini adalah upaya menjaga ritme—agar rupiah tidak terseret terlalu jauh oleh arus global yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah tekanan akan datang, melainkan seberapa kuat fondasi yang disiapkan untuk menahannya. Rupiah, sekali lagi, diuji.