EKSEKUTIF.com — Indonesia Pride World Tour: “Sangat Indonesia” Jurus Jitu Tembus Pasar Dunia

Ada yang berbeda dari gelaran Indonesia Pride World Tour 2026 yang resmi dibuka Senin, 5 Mei 2026 di Hotel Four Seasons, Jakarta. Bukan sekadar peragaan busana, acara ini sejak awal dirancang sebagai bridging platform —menyatukan estetika tinggi dan logistik bisnis nyata.
Mengusung tema “SANGAT INDONESIA”, tur global tahun ini akan menyasar Melbourne, Shanghai, dan Hong Kong. Misi besarnya: Bring Indonesia to the Next Level. Sebuah pernyataan ambisius, tapi perlahan mulai terbukti dari strategi kurasi yang matang.
Fashion Show dan Trade Show dalam Satu Gelombang
Yang menarik, Indonesia Pride tidak memilih jalur tunggal. Konsep hybrid event—memadukan fashion show dan trade show—diharapkan mampu menciptakan ekosistem transaksional sekaligus naratif.
Di atas panggung, koleksi premium dari desainer kelas atas seperti Denny Wirawan serta label Je Sui Flirt oleh Indah Kalalo & Fabiola Aisha menjadi penanda bahwa mode Indonesia siap bersaing di kancah internasional.
Namun di area yang sama, puluhan UMKM binaan dari berbagai daerah turut berpameran. Mulai dari tenun ikat NTT, batik pesisir, hingga aksesori daur ulang. Inilah yang membuat Indonesia Pride disebut sebagai fashion hub sekaligus jembatan strategis menembus pasar global.
“Kami ingin menjadi platform yang tepat sasaran—bukan hanya seremoni. Harus ada manfaat ekonomi nyata bagi desainer dan UMKM,” ujar Rama Budisetyo, pendiri Indonesia Pride, kepada media usai pembukaan.
Dress Code jadi Alat Kurasi dan Kebanggaan Kolektif
Seluruh undangan diwajibkan mengenakan busana khas Indonesia: kebaya, tenun, ikat, atau batik. Kebijakan ini bukan sekadar gaya, tetapi bentuk kurasi visual yang memperkuat positioning “Sangat Indonesia” di mata mitra global.
Sejumlah selebriti senior seperti Marini Zumarnis, Cut Keke, Dina Lorenza, Diana Pungky, dan Ayu Azhari turut hadir, memberikan legitimasi kultural dan media appeal yang kuat.
Tak ketinggalan, para host lintas profesi—Nina Kaginda, Debbie Robert, Gendis Soeharto, Anni Savitri, Dewi Bamsoet, Dahlia Sardjono, dan Ervi Meizarni—menunjukkan bahwa gerakan ini digerakkan oleh ekosistem kolektif, bukan sekadar event musiman.
Inovasi Baru: Studi Tur ke Shanghai Bersama dr. Schatz
Memasuki tahun keempat sejak pertama kali digelar pada 2023, Indonesia Pride meluncurkan terobosan baru: kolaborasi dengan dr. Schatz sebagai brand participant sekaligus penyelenggara study tour ke Shanghai. Program tahunan ini dirancang untuk membuka akses pasar langsung bagi jenama Tanah Air ke Tiongkok.
“Studi tur ini akan menjadi agenda rutin ke depan. Kami tidak ingin hanya tampil, tapi juga belajar dan bertransaksi di pasar sasaran,” tambah Rama.
Langkah ini penting mengingat Shanghai merupakan salah satu gerbang mode dan gaya hidup terbesar di Asia. Dengan pendekatan berbasis edukasi ekspor, Indonesia Pride mencoba keluar dari format show-only menuju show-and-grow.
Dari Jakarta ke Dunia, Akar Tetap Kuat
Indonesia Pride berawal dari sebuah idealisme kecil pada 2023. Kini, di usianya yang keempat, ia tumbuh menjadi gerakan semi-diplomasi budaya yang membawa dampak terukur. Bukan sekadar kebanggaan, tapi juga keberlanjutan ekonomi kreatif.
Jika tur dunia ini berjalan sukses, bukan tidak mungkin “Sangat Indonesia” akan menjadi lebih dari sekadar tema—melainkan label origin yang diakui di pasar global.
Tentang Indonesia Pride
Indonesia Pride adalah platform promosi budaya dan fesyen Indonesia yang berdiri sejak 2023. Dengan menjadikan fesyen sebagai sarana diplomasi budaya, platform ini secara aktif memberdayakan desainer dan UMKM Indonesia untuk tampil di berbagai kota dunia.








