Tiga Kriteria Berpikir Kritis Warga Digital

  • Bagikan
Gambar: https://www.daaruttauhiid.org/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTATanpa disadari kita lebih banyak menggunakan internet dalam berkomunikasi seperti melalui media sosial (WhatsApp, Facebook, Instagram) serta surat elektronik (email) dibanding berkomunikasi secara langsung. Lama-lama masyarakat pun lebih terbiasa bergaul di dunia maya ketimbang nyata.

Adanya perubahan dilihat dari sisi masyarakat mengubah teknologi begitupun sebaliknya. Kita lihat dari lingkungan pendidikan saja sudah mulai mengikuti perkembangan teknologi, juga di sisi budaya dan sosial juga berubah. Misalkan dulu orang ke pasar kini belanja online.

“Terjadi juga pergeseran cara menyampaikan pesan. Dari teks yang baik menjadi singkatan menjadi huruf yang dimodifikasi sedemian rupa,” ujar Ahmad Lubis Ghozali S.Kom, M.Kom Dosen Teknik Informatika Politeknik Negeri Indramayu dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021) siang.

Lalu apa yang harus dilakukan? Indikator pertama dari kecakapan dalam budaya digital adalah bagiamana setiap individu menyadari ketika memasuki era digital secara otomatis dirinya telah menjadi warga negara digital. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi landasan kecakapan digital.

Untuk menjadi warga digital yang Pancasilais yaitu dengan berpikir kritis. Ada tiga kriterianya:

1. Tidak berpikir kritis
Percaya pada hampir semua yang didengar dan pada banyak hal tanpa bertanya-tanya

2. Kurang berpikir kritis
Mempertanyakan hal-hal yang dirasa perlu untuk memastikan bahwa informasi yang didengar layak untuk dipercaya

3. Berpikir kritis
Selalu mempertanyakan segala hal, mencari tahu dan mengevaluasi lebih lanjut berdasarkan data dan fakta untuk memastikan bahwa informasi tersebut akurat dan dapat dipercaya.

“Dari tiga kriteria ini, Anda termasuk yang mana? Apapun kriterianya yang penting bisa memahami bagaimana Langkah selanjutnya dalam penyebaran pesan,” jelasnya.

Konten yang baik belum tentu benar, tidak semua konten yang benar pantas disebar, dan konten yang benar belum tentu bermanfaat. Saring sebelum sharing.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat Rabu (15/9/2021) siang juga menghadirkan pembicara Rafi Faudy Saifullah (Founder Tipsea Coffee and Eatery), Arifuddin S.Pd, MT (Kepala Sekolah SMKN 1 Jamblang), Chiara Chiasman (Co-Founder & Consultan of Finest Sangjit), dan Charissa Purba (Digital Creator & Fashion Designer) sebagai Key Opinion Leader

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 150 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.