Tantangan Budaya di Era Transformasi Digital

  • Bagikan
Gambar: https://www.logique.co.id/

EKSEKUTIF.com  – Indonesia merupakan negara ketiga dengan pengguna internet terbesar di dunia yaitu sebesar 70 persen populasi. Dengan waktu rata-rata penggunaan internetnya 8 jam 56 menit.

Elfira Fitri Wahyono, Manager of External Student Affairs di Universitas Multimedia Nusantara mengatakan, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan, beberapa dari kita tidak sadar menghabiskan waktu sebanyak itu.

Menurutnya, pengguna bisa tidak sadar karena ini sudah menjadi bagian dari keseharian kita.

Selain itu, karena transformasi digital saat ini juga telah mencapai semua aspek kehidupan, mulai dari bisnis, ekonomi, hiburan, transportasi, bahkan kegiatan belajar.

“Transformasi digital memberikan dampak positif dan negatif kepada hampir 70 persen populasi masyarakat yang menggunakan internet di Indonesia,” tutur El dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/8/2021).

Menurut paparannya, dampak positif adanya transformasi digital adalah kemudahan akses informasi yang lebih cepat.  Kemudian, tumbuhnya inovasi dalam berbagai bidang, meningkatnya kualitas dan efisiensi kehidupan, serta inklusivitas yang dapat dirasakan siapapun, di mana pun, dan kapan pun.

Ketika ada dampak positif, tentu ada dampak negatif. Dampak negatifnya, adanya pelanggaraan hak cipta atau hak kekayaan intelektual (HAKI) yang disebabkan karena arus informasinya sangat cepat.

Lalu, rendahnya ketersediaan lapangan kerja karena SDM digantikan teknologi digital, munculnya hoaks dan munculnya budaya serba instan yang membuat orang malas untuk bergerak. Selain itu juga, meningkatnya kejahatan digital.

“Tantangan dalam era transformasi digital bisa merubah tatanan kehidupan sosial, budaya, masyarakat, dan politik. Kemudian yang kedua, adanya kemerosotan moral bangsa, yaitu tergerusnya nilai kepekaan sosial, kepedulian, dan empati pada sesama,” terangnya.

Akan tetapi, dalam pemaparan El berdasarkan riset dari Digital Civility Indeks, negara kita belum mampu sepenuhnya memenangkan tantangan dari transformasi digital. Hal ini karena tingkat kesopanan masyarakat Indonesia dinyatakan paling rendah se-Asia Tenggara.

Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena banyak masyarakat yang menganggap bahwa kehidupan dunia nyata dan digital itu berbeda.

Padahal justru keduanya sama, bahkan aktivitas kita di media sosial mencerminkan perilaku kuta di dunia nyata. Banyak masyarakat juga tidak menyadari bahwa mereka akan bertemu sengan manusia lainnya. Mereka berpikir, di media sosial atau ruang digital itu sendirian.

Dalam menghadapi tantangan transformasi digital, El mengatakan caranya dengan membangun pondasi budaya yang kokoh saat berinteraksi di ruang digital.

Di Indonesia, pondasi budaya yang kokoh itu bisa dilakukan dengan menanamkan budaya luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di ruang digital.

El menuturkan, nantinya pondasi budaya pancasila akan merangsang munculnya budaya kreatif dan produktif di ruang digital. Ia memaparkan, budaya kreatif ini meliputi:

  1. Bijak dalam memilih platform digital sesuai dengan kebutuhan
  2. Memahami, menguasai, dan perlakukan platform digital dengan baik
  3. Menggunakan platform digital dengan sejawarnya
  4. Menyebarkan konten positif
  5. Mengoperasikan teknologi digital secara aman dengan menjaga data pribadi dan jejak digital
  6. Menanamkan rasa cinta tanah air

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Daniel Hermansyah (CEO of Kopi Chuseyo), Nikita Dompas (Produser & Music Director), Ardie Halim Wijaya (Kaprodi Manajemen Informatika Universitas Buddha Dharma), dan Vivian Wijaya (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

 215 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.