EKSEKUTIF.com- Dewasan ini Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan pelaku usaha untuk akselerasi pemasaran, menganalisis data, melayani pelanggan hingga mendukung pengambilan keputusan. Namun, di tengah derasnya adopsi teknologi tersebut, pemilik bisnis diingatkan agar tidak kehilangan kendali dan jati diri karena teknologi tersebut.
SyaREA World (SW) menilai AI seharusnya ditempatkan sebagai sparring partner strategis bagi pemilik bisnis, bukan sebagai pengganti manusia dalam menentukan arah perusahaan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop “AI for Business Owners” yang digelar SyaREA World selama tiga hari di IPB International Convention Center, Bogor, pekan lalu. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 pengusaha Muslim dengan pembelajaran AI yang ditempatkan dari perspektif business owner.
Founder SyaREA World, Syamsul Safin mengatakan, pemanfaatan AI yang tidak memiliki arah, berpotensi membuat pengusaha terjebak dalam eksplorasi teknologi tanpa tujuan bisnis yang jelas. “Bagi kami, workshop ini adalah rescue mission dari labirin tak berujung. Kami tidak ingin pengusaha sekadar menjadi pengguna AI yang sibuk mencoba berbagai tools. Yang jauh lebih penting adalah mereka memahami posisi AI dalam arsitektur bisnisnya, apa yang boleh dibantu AI, apa yang harus tetap diputuskan manusia, dan batas apa yang tidak boleh dilewati,” ujar Syamsul dilansir dalam rilis pers, baru ini.
Menurutnya, tantangan penggunaan AI bukan hanya soal seberapa banyak tools yang mampu digunakan perusahaan. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana teknologi tersebut tetap selaras dengan visi, nilai dan strategi bisnis.
Risiko Bisnis Menjadi Generik
Dari workshop tersebut terungkap, salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah hilangnya diferensiasi bisnis. Kemudahan AI dalam menghasilkan konten, materi pemasaran, analisis maupun berbagai bentuk komunikasi bisnis, dapat membuat perusahaan menggunakan pola yang semakin seragam.
Ketika banyak pelaku usaha menggunakan tools, instruksi dan pola AI yang relatif sama, produk maupun komunikasi perusahaan berpotensi menjadi semakin generik.
Kondisi tersebut, menurut Syamsul, dapat menggerus keunggulan kompetitif perusahaan. Ketika diferensiasi hilang, produk semakin mudah dipersepsikan sebagai komoditas dan perusahaan berpotensi masuk ke dalam persaingan harga. “Dalam kondisi generik, banyak pengusaha yang terjebak pada perang harga. Padahal perang harga tidak pernah dimenangkan oleh yang kecil. Yang bertahan adalah yang bermodal paling dalam. Margin yang tergerus akan mematikan kemampuan bertumbuh,” katanya.
Karena itu, AI perlu digunakan untuk memperkuat keunikan bisnis, bukan justru membuat seluruh perusahaan terlihat sama.
Semakin Penting Pengendalian
Selain risiko hilangnya diferensiasi, SyaREA World mengingatkan pengusaha mengenai aspek keamanan ketika AI mulai terhubung dengan data dan sistem perusahaan.
Data pelanggan, strategi bisnis, dokumen internal, informasi keuangan serta pengetahuan perusahaan merupakan aset sensitif yang membutuhkan tata kelola. Risiko menjadi semakin kompleks ketika perusahaan menggunakan AI Agent yang dapat berinteraksi dengan aplikasi, data, API, tools dan sistem internal.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah titik kerentanan AI Agent, antara lain indirect prompt injection, eksfiltrasi data, penyalahgunaan hak akses, manipulasi memory atau context, kebocoran API key serta serangan melalui tools dan server eksternal.
Risiko juga dapat berasal dari infrastruktur tempat AI dijalankan, termasuk server-side request forgery (SSRF), remote code execution (RCE), container escape, serangan webhook, DDoS hingga resource exhaustion.“Jangan sampai demi mengejar efisiensi dengan AI, perusahaan justru membuka pintu bagi risiko keamanan data, privasi dan kebocoran informasi,” tegas Syamsul.
Ia menambahkan, semakin besar akses yang diberikan kepada AI, semakin penting pula pengendalian akses, keamanan sistem dan tata kelola penggunaannya.
Risiko tersebut juga menjadi perhatian dalam pengembangan dan penggunaan AI secara lebih luas. National Institute of Standards and Technology (NIST), misalnya, memasukkan confabulation atau hallucination, kebocoran data dan keamanan informasi sebagai sejumlah risiko yang perlu dikelola dalam penggunaan generative AI.
Sementara itu, Microsoft dalam Work Trend Index 2025 melaporkan bahwa 78% pengguna AI di tempat kerja yang disurvei menggunakan atau membawa tools AI mereka sendiri ke lingkungan kerja. Fenomena tersebut memperlihatkan pentingnya tata kelola perusahaan agar penggunaan AI oleh individu tidak berkembang tanpa kontrol organisasi.
Jangan Terjebak “Halusinasi Kepintaran”
SyaREA World juga menyoroti risiko lain yang lebih bersifat perilaku, yakni kecenderungan seseorang terlalu percaya terhadap jawaban AI. Syamsul menyebut kondisi tersebut sebagai “halusinasi kepintaran”. Menurut dia, kemampuan AI menghasilkan jawaban dengan cepat dapat membuat seseorang merasa telah memahami suatu persoalan, meski belum tentu memiliki pengetahuan yang memadai untuk menguji kebenaran jawaban tersebut.
“Kalau pada efek Dunning-Kruger orang tahu sedikit sudah merasa tahu banyak. Kalau dengan AI, orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, langsung merasa tahu segalanya. Ini sangat berbahaya kalau diterapkan dalam konteks bisnis,” ujarnya.
Karena itu, pemilik bisnis tetap perlu memiliki kemampuan untuk menguji, memverifikasi dan mempertanyakan hasil yang diberikan AI.
Terlebih, AI kini tidak hanya digunakan untuk pekerjaan administratif. Ketika teknologi tersebut mulai masuk ke analisis, strategi, layanan pelanggan hingga pengambilan keputusan, kesalahan yang tidak terdeteksi dapat memberikan dampak langsung terhadap bisnis.
Business Owner Tak Harus Jadi Ahli AI
Di tengah kecenderungan adopsi AI yang makin tinaggi, SyaREA World tetap mengarahkan pelaku iuaha tetap idak mendorong pemilik bisnis untuk menjadi ahli teknis AI. Sebaliknya, business owner dinilai cukup memahami AI sampai pada tingkat yang berkaitan dengan arsitektur bisnis.“Cukup tahu seperlunya. Gunakan AI sampai lapisan arah, visi-misi perusahaan, nilai inti, strategi dan rancangan usaha. Sisanya serahkan kepada tim dan terus awasi,” kata Syamsul.
Bagi SyaREA World, lanjuntnya, , pertanyaan penting di era AI bukan hanya “AI bisa melakukan apa?”, tetapi juga “Apa yang seharusnya tetap menjadi keputusan manusia?” Sebab, semakin pintar teknologi berkembang, semakin penting pula bagi pemilik bisnis untuk menjaga visi, nilai, karakter dan diferensiasi perusahaan agar tidak hilang di tengah derasnya adopsi AI.






