PREDIKSI NTT ‘FUTURE DISRUPTED’ di tahun 2021: Transformasi Digital Sudah Menjadi Keharusan bagi Setiap Bisnis

 

Pandemi COVID-19 ternyata tidak hanya berdampak negatif bagi semua bidang kehidupan. Namun ternyata berdampak positif bagi perkembangan teknologi digital. Pasalnya dengan adanya Pandemi Covid-19 tersebut justru menjadi akselerator bagi proses transformasi digital, khususnya bagi dunia bisnis.

Hal itu terungkap dalam acara pemaparan  prediksi tren teknologi  NTT ‘Future Disrupted: 2021’, yang telah dipaparkan oleh Hendra Lesmana,  Hendera Lesmana, CEO NTT Ltd. untuk Indonesia, dalam acara Small Media Gathering NTT Future Disrupted 2021, Selasa ( 1/12/2020).

Prediksi tersebut didasarkan pada tren teknologi paling kritis yang perlu diwaspadai perusahaan tahun depan dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasinya. Dalam paparannya  Hendra mengungkapakan bahwa prediksinya menyatakan bahwa tren teknologi disruptive yang terjadi di tahun 2021 akan mencerminkan dampak dari pandemi COVID-19 pada percepatan transformasi digital yang terjadi pada masyarakat global.

Menurut  Hendra,  prediksinya  tersebut sudah dikompilasi oleh ahli – ahli di NTT Ltd., yang berhasil mengidentifikasi tren untuk dua belas bulan ke depan akan seperti apa gangguan teknologi yang akan kita hadapi dan langkah bisnis apa yang harus diambil supaya perusahaan tetap bisa mendapatkan keuntungan di tahun 2021

Berdasarkan tren teknologi yang diperkirakan akan mendorong suatu perubahan, dikombinasikan dengan pandangan dari para ahli di NTT Ltd., tren tersebut berfungsi sebagai panduan bagi para pebisnis yang ingin menangkap peluang dan manfaat yang dibawa oleh teknologi ini.

Tren teknologi disruptif, yang diperkirakan akan terjadi mulai tahun 2021 dan seterusnya, mencerminkan dampak pandemi COVID-19 pada percepatan transformasi digital yang terjadi di masyarakat.

Menurut  Hendra, NTT Ltd. yakin ada lima tren utama teknologi disruptif yang menjanjikan untuk membantu bisnis mewujudkan keselamatan dan keamanan, mendukung pertumbuhan berkelanjutan, dan mengurangi beban pada lingkungan, yakni:

  1. APN (All-photonics networks) akan memperkuat komunikasi global: APN akan mengaktifkan transmisi informasi end-to-end antara terminal dan server yang akan memungkinkan kita untuk melakukan operasional dalam lingkungan komunikasi berkelanjutan secara intensif dengan menggunakan daya yang sangat rendah.
  2. Teknologi Cognitive Foundation (CF) akan menghubungkan dan mengontrol segalanya: Pengelolaan terpusat dan alokasi sumber daya TIK yang cerdas akan memberikan kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai informasi sensor – seperti: suara, video atau lainnya – untuk mendukung inisiatif Internet of Things (IoT).
  3. Digital twin computing (DTC) akan memungkinkan analisis prediksi dengan mengintegrasikan dunia nyata dan virtual: DTC akan menguji lingkungan yang berbeda dengan menyalin, menggabungkan, dan menukar berbagai digital twins dari ‘benda’ dan orang secara bebas. Informasi ini akan diintegrasikan ke dalam aplikasi seperti sistem prediksi kemacetan lalu- lintas dan dapat membuat prediksi yang akurat di bidang pengendalian penyakit.
  4. Evolusi ‘citizen developer’ dan otomatisasi proses robotik akan membentuk kembali bisnis: Pembangunan platform-platform berkode rendah/tanpa kode memungkinkan siapa saja untuk membuat aplikasi bisnis dengan menggunakan data perusahaan mereka sehingga menjadi pembeda yang signifikan bagi bisnis. Pendekatan ‘citizen developer’ juga memanfaatkan otomatisasi proses robotik untuk mengotomatiskan proses bisnis tertentu, dengan demikian memungkinkan karyawan menghabiskan waktu untuk pekerjaan yang bernilai lebih tinggi.
  5. Komputasi kuantum dan edge akan mengantarkan era baru komputasi: Lebih banyak pekerjaan komputasi yang dapat dilakukan secara lokal di edge, daripada di pusat cloud yang dapat menyebabkan penundaan. Misalnya, sistem komputer pada visualisasi mobil akan memproses dan mengenali gambar dengan langsung, dibandingkan dengan harus lebih dulu mengirimkan informasi tersebut ke cloud untuk melakukan verifikasi.

Ketika tren teknologi disruptif ini sudah ada di depan mata, dalam waktu dekat, tren ini akan mendorong kebutuhan terhadap transformasi digital karena memungkinkan bisnis untuk memberikan pengalaman pelanggan dan karyawan yang superior, lebih terhubung, mulus dan positif. Karena itu, NTT Ltd. memprediksi bahwa transformasi digital pada tahun 2021 akan menjadi suatu keharusan bagi dunia usaha, bukan suatu pilihan lagi.

Seperti yang terungkap dalam 2020 Global Customer Experience Benchmarking Report  dari NTT, pengalaman karyawan dan pelanggan yang positif (Employee eXperience EX & Customer eXperience CX) akan menjadi landasan bagi strategi bisnis yang dibangun di masa depan. Hal ini didukung oleh penelitian NTT lebih lanjut, di mana 72% organisasi Asia Pasifik mengutip peningkatan CX sebagai faktor utama yang mendorong transformasi digital mereka.

Dalam mengomentari prediksi tersebut, Andy Cocks, Chief Go-to-Market Practices Officer di NTT Ltd. mengatakan, “Pada tahun 2021, kami memperkirakan bahwa keberhasilan CX akan bergantung pada apakah anda memiliki strategi berbasis data dan terdokumentasi dengan baik. Data pelanggan dalam jumlah besar yang diakses, diambil, dan dikelola oleh sebagian besar organisasi dari berbagai sumber semata-mata akan siap bertambah di tahun mendatang.”

Andy melanjutkan, “Otomatisasi juga akan memainkan peran penting dalam inisiatif pengalaman karyawan. NTT memprediksi untuk melihat kemajuan dan adopsi otomatisasi proses robotik, pembelajaran mesin, dan AI. Pengusaha harus berpikir keras untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan keselamatan karyawan. Identitas, data dan analitik, alat kolaboratif, keamanan dan otomatisasi akan menjadi dasar untuk meningkatkan pengalaman karyawan, serta yang terpenting, kesejahteraan karyawan.”

 

Terakhir, keamanan siber harus mendukung semua yang diterapkan karena dampaknya terhadap loyalitas pelanggan dan kesejahteraan karyawan akan semakin meningkat saat memasuki tahun 2021. NTT’s Intelligent Workplace Report juga menunjukkan bahwa 93,2% organisasi di Asia Pasifik telah sepenuhnya memikirkan kembali keamanan mereka untuk mengakomodasi cara bekerja baru yang diakibatkan oleh pandemi.

 

Pelatihan tentang aplikasi baru dan cara kerja baru tampaknya tidak menjadi agenda utama (hanya untuk 48,7% dari organisasi di Asia Pasifik), yang menghadirkan risiko tingkat tinggi. Memberi tahu karyawan tentang pembaruan kebijakan keamanan dan menyelesaikan program kesadaran tentang keamanan, bagaimana ini akan mendukung mereka dalam aktivitas sehari-hari – terlepas dari lokasinya – dan apa yang diharapkan dari mereka, adalah yang terpenting untuk memastikan perilaku karyawan yang diinginkan, dan yang terpenting, penerimaan dan kesediaan mereka secara aktif untuk mendukung  dan berpartisipasi tentang masalah keamanan siber.

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pasang Iklan? Chat Sekarang