Perubahan Tranformasi Digital yang Cepat Tetap Memerlukan Kesadaran dalam Etika

  • Bagikan
Gambar: https://www.higen.net.id/

JAKARTA,– Selama pandemi transformasi masyarakat dalam berinteraksi di dunia digital sangatlah cepat. Kegiatan dari belajar, bekerja, transaksi keuangan, hingga membeli tiket saat ini dilakukan melalui gawai.

Begitu cepatnya perubahan ini, ada segelintir masyarakat yang belum memanfaatkan digital ini sesuai etika karena kurangnya pemahaman literasi digital.

Akibatnya baru-baru ini Indonesia mendapat predikat sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Predikat buruk ini diakibatkan dari komentar, cyberbullying, ujaran kebencian, hingga hoaks yang ada di media sosial.

Padahal survei yang dipublikasikan di situs World Economic Forum perusahaan akan memeriksa latar belakang dan identitas pribadi di sosial media pelamar.

“Hampir semua perekrut tidak ingin mempekerjakan pegawai yang memiliki unggahan kata-kata kasar, sering memposting hal negatif, atau berbagi informasi hoaks, karena itu bijaklah dalam bermedia sosial,” kata Syarief Hidayatulloh, Digital Marketing Strategic Hello Morning Monday saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, pada Senin (23/8/2021).

Masalah sebenarnya yang menjadi serius adalah karena jejak digital yang ada di media sosial dan internet tidak bisa hilang. Padahal seseorang bisa kehilangan pekerjaan atau tidak mendapat pekerjaan gara-gara komentar yang ditulis di media sosial.

Membiasakan menerapkan etika selayaknya saat berinteraksi di dunia nyata harus diterapkan setiap orang, agar tidak merugikan diri sendiri. Biasakan untuk menggunakan kata-kata yang layak dan sopan, serta tetap waspada dalam menyebarkan informasi.

Di samping itu saat berinteraksi di ruang digital, setiap individu perlu untuk menghargai karya orang lain dengan mencantumkan sumber. Batasi untuk menyebarkan informasi yang bersifat pribadi, sebaliknya sebarkan informasi yang inspiratif dan edukatif.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hadir pula nara sumber seperti Henry V Herlambang, CMO Kadobox, Dee Rahma, seorang Digital Marketing Strategist dan Taufik Hidayat, Kepala UPT IT & Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Syekh Yusuf.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 301 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.