Perbedaan Kesopanan Masyarakat Indonesia di Dunia Nyata dan Digital

  • Bagikan
Gambar: https://www.rumahperubahan.co.id/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTAIndonesia dikenal sebagai sebuah negara yang ramah, murah senyum, dan senang membantu di dunia nyata. Faktanya, keramahan di dunia nyata tidak selaras dengan di dunia maya.

Masyarakat kita di dunia digital lebih dikenal sebagai masyarakat yang senang berperilaku negatif, salah satunya melalui komentar-komentar pedas yang kerap kali dilontarkan di media sosial.

Nanan A. Manan, Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan mengatakan, perbedaan antara kesopanan di dunia nyata dan digital menjadi permasalahan kita.

“Pengguna internet ini dikuasai oleh kaum milenial, gen z. dan generasi alfa,” ujar Nanan dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Rabu (!3/10/2021).

“Hal yang perlu jadi perhatian dan kehati-hatian itu bagaimana pesan tulis bisa menjadi sebuah momok besar di kehidupan digital kita,” Nanan A. Manan berujar.

Adanya monetisasi media menjadi salah satu faktor orang membuat postingan dengan seenaknya, karena tujuan utamanya yakni membuat postingan tersebut ramai, bukan dampak positif atau negatifnya.

Kemudian, konten-konten hoaks, diskriminasi, dan ujaran kebencian menjadi permasalahan postingan di masa kini.

“Jadi ada ketimpangan antara keramahan dan kesopanan versi nyata dan virtual. Pengguna yang menulis juga tidak mau mengemukakan identitasnya (anonim) dan menginginkan dibaca banyak orang untuk mendapat uang,” jelas Nanan.

Oleh karena itu, pola pikir kita pun harus dilatih agar tidak menyebarkan konten negatif hanya karena monetisasi.

Konten yang berkaitan dengan peluapan emosi, bullying, konten sensitif, ejekan, pornografi, dan ujaran kebencian harus dihindari.

Sebab, konten positif pun bisa dijadikan sebuah konten yang bisa dimonetisasi oleh kita.

Menurutnya, ketika kita menghadapi masalah ini di dunia digital, kita perlu mengedepankan etika.

Salah satunya menyaring konten atau informasi apapun yang kita dapat di internet sebelum menyebarkannya ke orang lain.

Informasi yang akan dibagikan juga harus dipertimbangkan manfaatnya bagi orang lain. Apabila tidak ada, maka tidak perlu disebarluaskan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Rabu (13/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Pringgo Aryo Pradana (Produser/Komposer Musik), Maria Natasya (Internal Communication Strategist), Martha Mariska (Digital Banking Legal), dan Joana Lee (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 203 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.