Majalah EksekutifNasional

Mantan KSAL Tertarik Kembangkan Aplikasi Maritim

Ade Supandi, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) periode 2018-2021

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

“Keiklasan, merupakan sebuah semangat yang ditumbuh kembangkan. Agar kita terus kreatif, inovatif serta berkarakter.”

EKSEKUTIF.id — Laiknya dokter berada di ruang praktek, tamu Laksamana (pur) Ade Supandi bergiliran masuk. Dari pagi, hingga menjelang sore. Ada saja tamu yang antri.

Tak terkait pemberitaan, memang. Saat menjabat, KSAL ke 25 ini, tak henti dikonfirmasi berita-berita oleh jurnalis di kantornya.

Pada saat ini (14 November 2018), juga datang beragam tamu yang diterima Ade Supandi di ruangan PPAL Sunter, Pengurus Pusat, kawasan Kelapa Gading, Jakarta 14240 seperti mengalir.

“Ya, ada saja. Teman serta sahabat yang kangen, dari yang sudah purna tugas, kita bicara. Datang juga rekan-rekan tim ketika di penugasan, dari matra bukan hanya laut. Ya, sekedar kangen-kangenan,” ujar pria kelahiran Batujajar, Bandung, Jawa Barat 26 Mei 1960 itu.

Yang menarik, “Baru saja, saya menerima tamu dari generasi milenial yang peduli maritim.”

Ade Supandi, yang baru saja ditetapkan sebagai Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) periode 2018-2021 merasa bertemu dengan kaum milenial membawanya untuk terus up to date pada hal-hal baru dan terus berkembang.

Perilaku kehidupan, membuatnya kenal lahir batin perilaku laut dan masyarakat pesisir. Ketika ada, generasi muda era digital, mengamati grand design pembangunan maritim Indonesia, ia bersyukur dan dengan tulus menyikapinya, ketika anak-anak muda itu meminta arahan (advis) atau sekedar bicara hal-hal yang stagnan, hingga merespon perubahan dunia bisnis.

Sinceritity atau keiklasan, merupakan sebuah semangat yang ditumbuh kembangkan. Agar kita terus kreatif, inovatif serta berkarakter,” ujar penulis buku Fondasi Maritim itu dengan ramah.

Pria yang menjadi catatan sejarah tersendiri di dunia militer Indonesia itu, juga aktif sebagai Pemimpin Umum Majalah Jalasena. Ia menyebut, di ekonomi digital demikian penting portal informasi, monitoring ragam isu-isu kemaritiman.

Bahwa ada generasi muda yang membuat aplikasi untuk memantau, memberi informasi mengenai industri pelayaran dalam negeri yang membutuhkan perhatian serius. “Hanya persoalan waktu saja, kapan menjadi kebutuhan,” jelasnya.

Apalagi, dominasi kapal-kapal asing untuk ekspor-import. Ketika kapal pencuri ikan “ditenggelamkan”, misalnya, dianalisa siapa yang diuntungkan atau dirugikan. Kemudian di buzz ke medsos dan jaringan media digital.

Pria lulusan AAL TNI angkatan 28 tahun 1983 ini setuju, bahwa konsep maritim yang sebenarnya, terletak pada pembenahan pelayaran serta perdagangan di setiap daerah. “Datanya perlu kita update,” ujar Ade Supandi.

“Bukan tumpang tindih, tapi hanya ego sektoral yang terjadi,” ujarnya ketika ditanya soal banyaknya pengamanan laut semacam Bakamla, Polair, Pengawasan Sumber Daya Laut dan Perikanan KKP, juga Kesatuan penjaga Laut dan Pantai serta Bea dan Cukai.

“KSAL kedua dari Tanah Pasundan” ini mendukung jika ada aplikasi yang mungkin, menjadi terasa di masyarakat. Yang memudahkan pengguna, baik yang baru mengenal dunia kemaritiman atau yang sudah lama di bidang informasi kelautan.

“Tinggal nanti, sosialisasi atau literasinya kepada penggunanya seperti apa,” ujar pria yang sedang sibuk mengambil program doktoral (S3) di Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat.

Bagaimana mensosialisasi teknologi dan aplikasi itu, menurut Ade Supandi menjadi bagian yang penting. Sehingga dari si empunya kapal pesiar (yach) hingga penjual ikan yang jauh dari teknologi bisa senang dengan aplikasi itu.

Targetnya, agar aplikasi itu, diupayakan ter-download kepada perangkat handphone masyarakat pesisir hingga rakyat perkotaan.

Dikenalkan fintech kepada pelaku di bidang maritim, menurut Ade Supandi juga menarik. “Sharing pengalaman, positif bagi saya dan para pihak. Perlunya revitalisasi atau deregulasi di sektor fiskal, agar bisa kompetitif,” ujarnya.

Begitulah, pria yang sejak di taruna, kerap menjadi mentor bijak bagi yuniornya berbagi ilmu dan bicara panjang lebar. Bukan hanya urusan pekerjaan, tapi berkait cara pandang dan melihat kehidupan dari perspektif lebih lengkap.

baca juga: Majalah MATRA cetak (print) klik ini

“Bukan tumpang tindih, tapi hanya ego sektoral yang terjadi,” ujar Laksamana Ade Supandi, ketika ditanya soal banyaknya pengamanan laut semacam Bakamla, Polair, Pengawasan Sumber Daya Laut dan Perikanan KKP, juga Kesatuan penjaga Laut dan Pantai serta Bea dan Cukai.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.