Ketahui Bahaya Pornografi Pada Anak

  • Bagikan
Gambar: https://puspensos.kemensos.go.id

JAKARTA,- Kemajuan teknologi, sekolah daring, dan perubahan gaya hidup terutama dalam masa pandemi membuat peningkatan penggunaan intenet pada anak yang di dalamnya memiliki dampak positif dan negatif.

Internet merupakan informasi tak terbatas, dengan begitu tak semua sesuai untuk usia anak seperti tayangan kekerasan hingga pornografi.

Informasi yang ada di internet pun tak semuanya benar dan tak kalah bahaya dampak kesehatan seperti kecanduan.

“Perkembangan mental dan tubuh mereka biasanya akan terganggu konsentrasi, otomatis kemampuan mereka dalam sekolah akan menurun dan pertumbuhan terganggu karena biasanya anak-anak ini males, banyak diam, obesitas, dan tulang punggungnya cenderung bongkok,” kata Nandya Satyaguna, seorang medical doctor saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat I Senin (12/7/2021).

Salah satu bahaya internet yang dikhawatirkan pada anak adalah pornografi. Pornografi sendiri menurut UU No.44 tahun 2008 merupakan sketsa, foto, tulisan, suara, animasi, kartun, atau bentuk desain lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi di muka umum yang membuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan masyarakat.

Data paparan pornografi pada anak Indonesia pada Juni 2018 melalui skrining Kementerian Kesehatan mengenai adikasi pornografi pada siswa SMP dan SMA dari 1314 responden di kota besar adalah 98,3% telah terpapar pornografi.

Tingkat kecanduan pornografi dimulai dari durasi 1-2 kali setahun, lebih dari 6 kali, sebulan sekali, setiap minggu, setiap hari hingga menggangu keseharian, dan yang paling teratas sudah tidak berdaya dan putus asa jika tidak melihat pornografi.

“Pengaruh pornografi ke anak ini memengaruhi otak yaitu fungsi Pre Frontal Cortex yang membedakan antara otak manusia dengan otak hewan dalam menata emosi, konsentrasi, pemahaman, empati, berpikir kritis, membuat rencana masa depan, membentuk kepribadian dan berperilaku sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengaruh pornografi pada anak yang baru pertama kali melihat mengacu pada sistem limbik yang ada di otak kecil untuk pertahanan.

Nah ketika terpapar pornografi akan muncul dopamin dengan perasaan senang yang menyebabkan kecanduan pornografi. Namun dopamin juga akan menekan prefrontal cortex yang fungsinya untuk menata emosi, konsentrasi dan yang sudah disebutkan tadi tidak bekerja.

“Penurunan fungsi prefrontal cortelx ini akan membuat seseorang mudah berbohong, harga diri dan konsep diri menurun, merasa depresi, sulit konsentrasi dan sulit berpikir, sulit menahan diri dan sulit bersosialisasi yang berujung pada penyimpangan seksual dan seks bebas,” kata Nandya.

Di sini perlu adanya peran orang tua untuk pencegahan anak terpapar pornografi. Orang tua perlu punya hubungan yang baik dengan anak, dengan komunikasi dan kasih sayang yang menumbuhkan kepercayaan.

Kemudian orang tua perlu memberikan pendidikan seksual sejak dini pada anak. Orang tua juga harus memberikan pengertian tentang konsep internet sehat pada anak, dan menerapkan parental kontrol agar anak aman saat menggunakan perangkat.

Webinar Literasi Digital Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Klemes Rahardja Founder The Enterpreneur Society, Herru Joko Bobotoh Persib, dan Geri Sugiran Dosen TIK Stikes Sukabumi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital, untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 289 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.