Cloudera, satu-satunya perusahaan platform data dan AI yang menjalankan AI ke data di mana pun data tersebut berada, telah merilis The State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale, sebuah laporan global terbaru yang mengkaji bagaimana perusahaan menghadapi masalah kebutuhan akan efisiensi cost, kendali, dan fleksibilitas untuk mempertahankan penerapan AI dalam skala besar.
Berdasarkan survei yang ditunjuk oleh Cloudera dan dilakukan oleh Wakefield Research terhadap 1.500 pemimpin dan pengambil keputusan di bidang TI dari berbagai negara pada September 2026, laporan ini menemukan bahwa aturan penerapan AI di perusahaan sedang berubah seiring dengan kenaikan biaya, tuntutan tata kelola, dan persyaratan kedaulatan yang membentuk kembali bagaimana dan di mana organisasi menjalankan AI.
Hampir sembilan dari sepuluh responden (89%) telah membatasi atau merancang ulang kasus penggunaan AI akibat peningkatan konsumsi token. Sementara itu, 84% menyatakan bahwa persyaratan terkait lokasi penyimpanan data (data residency), kedaulatan data, atau yurisdiksi tertentu memengaruhi lokasi penerapan beban kerja AI. Hal ini menegaskan perlunya fleksibilitas dan kendali yang lebih besar seiring dengan upaya perusahaan memperluas penerapan AI.
Di Indonesia, terdapat momentum kuat meluasnya adopsi AI, dengan 88% perusahaan meningkatkan investasi AI mereka dari tahun ke tahun dan 70% mengalokasikan setidaknya US$500.000 setiap tahunnya. Namun, perusahaan di negeri ini menghadapi hambatan operasional yang signifikan, yang terutama didorong oleh governance dan compliance (65%), kekurangan keterampilan (55%), tantangan integrasi data (45%), serta mandat data sovereignty (45%).
Akibatnya, 88% organisasi di Indonesia melaporkan bahwa persyaratan data residency dan yurisdiksi data memengaruhi penempatan workload AI, dengan 53% mengadopsi arsitektur multi-environment secara khusus untuk melindungi sovereignty, menjaga resilience (45%), serta mengoptimalkan biaya infrastruktur dan inference (45%).
Temuan utama laporan ini meliputi:
- AI dalam lingkungan produksi memerlukan penyesuaian:98% responden pernah mengurangi atau menghentikan penerapan AI akibat kegagalan, halusinasi, atau perilaku yang tidak terduga.
- Tata kelola membatasi perluasan skala:75% menyebut tata kelola dan kepatuhan sebagai kendala dalam memperluas penerapan AI, sementara 55% melaporkan bahwa biaya tata kelola dan kepatuhan meningkat lebih cepat dari perkiraan.
- Biaya AI membentuk ulang strategi:45% telah memindahkan beban kerja AI sebagai respons terhadap biaya yang lebih tinggi atau lebih fluktuatif.
- Kedaulatan memengaruhi penempatan beban kerja:84% menyatakan bahwa persyaratan lokasi penyimpanan atau kedaulatan data memengaruhi lokasi AI dijalankan, dan 58% menyebutkan bahwa pemindahan beban kerja memerlukan perancangan ulang dalam tingkat sedang hingga besar.
“Skala mengungkapkan realitas baru bagi AI di perusahaan: apa yang berfungsi saat ini mungkin tidak lagi masuk akal secara ekonomi atau operasional di masa mendatang,” ujar Brian Martin, CTO Applied AI di Cloudera. “Biaya berubah, model berkembang, regulasi bergeser, dan lokasi yang tepat untuk menjalankan suatu beban kerja pun berubah seiring dengan itu. Para pemimpin membutuhkan strategi AI yang dirancang untuk menghadapi realitas tersebut, yaitu strategi yang memberi mereka kebebasan untuk beradaptasi tanpa kehilangan kendali atas data, tata kelola, atau pengeluaran mereka.”
“Perusahaan-perusahaan di Indonesia sedang mempercepat investasi AI dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun kompleksitas governance, kesenjangan keterampilan teknis, dan fluktuasi biaya inference tetap menjadi kendala utama dalam operasional mereka,” ujar Sherlie Karnidta, Country Manager Cloudera Indonesia, Rabu ( 04/11/2026).
“Dengan menawarkan pendekatan hybrid untuk mengelola data perusahaan, Cloudera memungkinkan organisasi lokal untuk menjalankan workload AI di tempat data tersebut berada—baik secara on-premises, di sovereign cloud, maupun di seluruh lingkungan multi-cloud. Pendekatan ini juga untuk memastikan kepatuhan terhadap mandat data residency Indonesia, sekaligus memberikan agility yang diperlukan untuk mengubah biaya untuk AI menjadi ROI bisnis yang berkelanjutan,” jelas Sherlie.
Temuan tersebut juga mengungkapkan meningkatnya perhatian terhadap fondasi yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan AI dalam jangka panjang. Jika diberi kesempatan untuk memulai kembali perjalanan penerapan AI mereka, 49% responden menyatakan akan memperkuat tata kelola sejak awal, 46% akan berinvestasi lebih awal pada kualitas data, dan 45% akan memodernisasi infrastruktur lebih cepat. Sebanyak 45% lainnya akan berinvestasi lebih besar dalam pelatihan karyawan.
Kebutuhan untuk beradaptasi ini menjadikan fleksibilitas di berbagai lingkungan semakin penting. Organisasi menyebut ketahanan (42%), persyaratan kedaulatan dan lokasi penyimpanan data (38%), pengurangan biaya (38%), serta kedekatan dengan data (37%) sebagai beberapa alasan utama untuk menjalankan beban kerja AI di berbagai lingkungan.
Cloudera memungkinkan organisasi menghadirkan AI ke data mereka, di mana pun data tersebut berada, sembari mempertahankan tata kelola dan kendali yang konsisten di berbagai lingkungan. Dengan menghadirkan sumber daya komputasi ke data yang telah berada dalam kerangka tata kelola, alih-alih mengharuskan perusahaan memindahkan data ke AI, organisasi dapat memilih lokasi untuk menjalankan beban kerja berdasarkan perubahan biaya, kinerja, kedaulatan, dan kebutuhan bisnis, sekaligus mempertahankan kendali di seluruh siklus hidup AI.
Unduh laporan lengkap State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale untuk mengetahui bagaimana perusahaan menyesuaikan strategi AI mereka seiring dengan persyaratan biaya, tata kelola, dan kedaulatan yang membentuk kembali langkah-langkah untuk memperluas penerapan AI.
Temuan ini juga akan menjadi fokus utama dalam acara Cloudera EVOLVE NYC, tempat para pakar industri akan membahas hal-hal yang diperlukan untuk membangun dan mengoperasikan AI di tengah persyaratan yang terus berubah.





