Jangan Asal Posting, Ini Hal yang Sebaiknya Tak Diumbar ke Medsos

  • Bagikan
Gambar: https://voinews.id/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTA Kemajuan teknologi, salah satunya dengan kemunculan media sosial, membuat masyarakat kerap lupa dengan apa yang layak dan tak layak dibagikan ke medsos.

Hal itu diungkapkan, Agus Triyanto, Digital Marketing Head PT Link Net Tbk, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021).

Ia menambahkan, tidak jarang hal yang tidak diinginkan justru menimpa kita dan keluarga, karena tak jeli dan selektif dalam memilih unggahan yang tepat di medsos.

Efek negatifnya salah unggahan bisa mulai dari hinaan terhadap fisik, keluarga, pertengkaran yang berujung hukum karena jerat Undang-Undang atau UU ITE dan sebagainya.

Berikut tiga hal yang tidak boleh diumbar di medsos untuk melindungi privasi, seperti:

1. Kartu identitas seperti paspor dan data diri lainnya
Beberapa orang menyukai membagikan foto perjalanan liburannya dengan mengunggah boarding pass di media sosial. Nyatanya, dalam foto tersebut terdapat identitasmu yang nantinya bisa disalahgunakan oleh orang tidak bertanggung jawab.

2. Masalah pribadi
Pasalnya bukan simpati yang akan didapatkan, namun respon yang akan menilai lebay atau alay. Sebaiknya simpan masalah pribadi dan ceritakan pada orang-orang terdekat saja.

3. Komentar kasar
Di dunia maya juga akan banyak ditemukan orang yang tak memiliki etika. Sehingga pakailah kata-kata yang baik agar tidak menyakiti orang lain.

Presiden Joko Widodo saat membuka program literasi digital, mengatakan, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat.

“Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” ujarnya.

Presiden pun mencontohkan konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital.

Literasi digital merupakan pekerjaan besar, sehingga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat melek digital.

“Saya memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam gerakan literasi digital nasional yang dilakukan Kementerian Kominfo ini,” tuturnya.

Presiden juga berharap gerakan literasi digital akan terus membesar dan bisa mendorong berbagai inisiatif lain untuk melakukan kerja-kerja konkret. Masyarakat pun semakin cakap memanfaatkan internet untuk berbagai kegiatan edukatif dan produktif.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Amin Wachid (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto), Aidil Wicaksono (Managing Director Kizen Room), Febryanti Mega Kristiani (Founder @vitaminmonster), dan Yumna Aisyah sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 142 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.