Hati-Hati Oversharing dan Kebablasan Berbagi di Ruang Digital

  • Bagikan
Gambar: https://mediaindonesia.com/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTA Ruang digital memungkinkan orang dari seluruh penjuru dunia berinteraksi dan berkomunikasi di dalamnya.

Bayangkan saja, dengan jaringan internet selama 60 detik sebanyak 26.000 aplikasi telah didownload, ada jutaan email terkurim, 694.000 video telah ditonton di TikTok, 350.000 tweet sudah diunggah, jutaan lagu didengarkan.

Nyata hal interaksi di ruang digital jauh lebih tinggi daripada interaksi di dunia nyata.

Hal tersebut bisa terjadi karena bila di kehidupan nyata kita jarang direspon oleh ratusan ribu orang. Di ruang digital, postingan setiap orang  bisa langsung dilihat oleh ratusan hingga ribuan orang dan cepat sekali menyebarnya secara realtime.

Sehingga rasanya seperti tidak ada batas, semua orang jadi punya panggung yang sama. Apalagi manusia sebagai makhluk egosentris suka mencari perhatian.

“Karena tanpa batas, terkadang individu menjadi oversharing atau kebablasan dalam berbagi,” kata Cyntia Jasmine, Founder GIFU saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I, pada Selasa (21/9/2021).

Padahal jangan lupa di ruang digital memang tidak ada pengawasnya, “Beda dengan TV maupun media yang sebelum menayangkan konten harus mengecek terlebih dulu apakah layak untuk ditonton.”

Menurut Cyntia di ruang digital, setiap orang harus menyadari dirinya sebagai pengawas diri sendiri sebab sebenarnya ada jejak digital yang ditinggalkan ketika berinteraksi di dunia maya.

Dampak buruknya jika lupa hal tersebut, maka bisa saja seseorang dipecat dari pekerjaannya. Sudah banyak kejadian bahwa jejak digital bisa berdampak serius karena kata-kata dan unggahan foto yang tidak pantas. Selain itu jejak digital juga tidak bisa dihapus, akan tetap ada di internet.

Webinar Literasi Digital di Kota Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Aditya Nova, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, dan Taufik Hidayat, Kepala UPT IT & Dosen Fakultas Teknik Universitas Syekh Yusuf.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 184 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.