Dampak Digitalisasi, Individualisme dan Kehati-hatian yang Jadi Gaya Hidup

  • Bagikan
Gambar: https://ekbis.sindonews.com

JAKARTA,Digitalisasi telah mengubah interaksi sosial di masyarakat. Dengan bantuan teknologi yang sebenarnya memudahkan kehidupan, di balik itu terdapat kehati-hatian gaya hidup yang membuat masyarakat menjadi individualis.

“Dampak dari Digitalisasi, tumbuhnya orang-orang berego tinggi, orang yang lebih mengutamakan dirinya sendiri ketimbang orang lain,” ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, Selasa (15/6/2021).

Lebih jauh Syarifudin mengungkapkan, digitalisasi telah membuat perubahan kehidupan sosial yang tidak lagi dibangun berdasarkan kolektivitas tapi dibangun berdasarkan egoisme dan individualisme. Konsekuensinya interaksi yang bersifat tatap muka akan semakin tersingkirkan.

Hal tersebut menjadi sinyal kehati-hatian bahwa digital telah menjadi gaya hidup. Padahal interaksi bersifat tatap muka harus tetap dipelihara sehingga tidak tersingkir dan agar menjadi lawan tanding dari egoisme, individualisme yang muncul akibat digital.

“Contoh kecil dari perspektif pendidikan bagaimana dampak digital saat pandemi ini lembaga pendidikan formal menjadi runtuh, tak ada lagi ruang-ruang kelas,” ujar Syafrudin.

Sejak pandemi, sekolah bukan satu-satunya tempat belajar karena proses belajar daring telah melepas dari pemaksa internal dengan materi baku dan waktu belajar menjadi bersifat flexibel.

Pendidikan sekarang juga menjadi sangat tergantung kepada anak dan orang tua artinya sekolah sebagai lembaga pendidikan harus menempatkan diri sebagai fasilitator bukan lagi memvonis seorang anak berhasil atau tidak berhasil.

Pendidikan juga tak lagi terbatas dari nilai-nilai yang tertera di dalam rapor dan angka-angka yang belum tentu merepresentasikan keadaan anak yang sebenarnya.

“Institusi pembelajaran formal bukan satu-satunya, saya tidak bilang tidak penting tetapi bukan satu-satunya tempat untuk belajar. Ada ruang lain untuk belajar seperti di RT, RW bahkan di ruang digital untuk pembelajaran,” sebutnya.

Peran-peran digital yang harus dikedepankan dibangun ke depan adalah kegotongroyongan, humanis, bukan egoisme dan individualis. Ketika digital harus dihadapkan pada interaksi sosial akan kembali kepada pengguna membawanya ke arah positif atau negatif.

“Dalam menggunakan digital hanya satu kata yang dibutuhkan yaitu literasi yang diartikan sebagai kemampuan memahami realitas,” tuturnya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu CMO Kadobox Henry Victor, Sekjen Relawan TIK Indonesia Said Hasibuan, dan Content Creator bandungtanpakamu, Vhie Saliendra. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 369 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *