Cara Memilih KOL yang Tepat untuk Pemasaran

  • Bagikan
Gambar: https://www.relevance.com/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTAKOL atau Key Opinion Leaders adalah salah satu bagian yang paling penting dalam dunia Digital marketing.

Setiap individu yang mampu mempengaruhi banyak orang akan menjadi titik balik kesuksesan dalam sebuah strategi pemasaran.

Meitha Kurniasari Experienced Secretary to BOD menjelaskan, pemasaran di dunia digital saat ini banyak pergeseran dan perubahan strategi dengan hadirnya KOL.

KOL adalah seorang atau organisasi yang mempunyai pengetahuan dan juga pengaruh pada suatu produk berdasarkan bidangnya tersendiri.

“KOL mempunyai kepentingan dan juga kekuatan yang sangat besar daripada media massa terkini. Karena mereka mampu membuat suatu hubungan dengan pelanggan melalui adanya kegiatan yang terasa sangat relevan dengan keseharian mereka,” ujar Meitha, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu (22/9/2021).

Lanjutnya, tidak hanya aktif di sosial media saja, salah satu paling umum di mana bisa menemukan banyak sekali seorang KOL adalah media tradisional seperti halnya televisi, radio, dan lain-lain.

“Bahkan seorang ahli klimatologi, orang yang memiliki pengetahuan terkait kontrol senjata, figur di dunia ekonomi, atau profesor dari universitas pun bisa menjadi seorang KOL,” terangnya.

Maka dari itu, perusahaan tidak bisa sembarang memilih KOL untuk kepentingan marketing hanya karena pengikutnya di media sosial menyentuh angka 1 juta.

Ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan tim marketing sebelum memilih KOL yang tepat untuk meningkatkan brand awareness, seperti:

• Relevansi dengan brand
Biasanya, perusahaan akan memilih KOL yang keahliannya berkaitan dengan brand yang mereka jual. Tim pemasaran juga terkadang setidaknya akan memilih KOL yang banyak memproduksi konten pada bidang yang bersangkutan dengan brand mereka.

Misalnya, brand akan memutuskan untuk menggunakan pendapat dan pengetahuan seorang chef ternama karena produk yang mereka jual bersangkutan dengan dunia kuliner.

• Akun media sosial yang beragam
Faktor ini menjadi faktor yang paling mudah, karena pada dasarnya semua individu sekarang ini memiliki akun pada beragam platform media sosial.

Maka dari itu, perusahaan kini tidak lagi kelimpungan mencari KOL yang memiliki ruang opini di berbagai media sosial. KOL yang akan dipilih sebaiknya memiliki akun di media sosial populer seperti Instagram, YouTube, Twitter, atau Facebook.

• Reputasi offline
KOL perlu memiliki reputasi yang baik di luar dunia maya. Tujuan utama seorang KOL untuk pemasaran adalah untuk menyebarkan brand awareness bagi produk perusahaan. Maka dari itu, tim marketing memerlukan KOL yang kredibel di dunia profesional, di luar dunia maya.

• Jumlah followers
Meskipun angka pengikut bukanlah faktor yang paling penting, jumlah followers tetap dapat memberikan estimasi yang akurat. Hal ini terutama jika terkait dengan seberapa jauh awareness sebuah brand yang kelak akan disebar oleh KOL terpilih. Maka, tim marketing wajib mencari tahu KOL mana yang memiliki paling banyak pemirsa.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu (22/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Usman Hadi (Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Situbondo), Diding Adi Parwoto (Praktisi IT & Ketua LPM IAI Uluwiyah Mojokerto), DR. Emalia Iragiliati (Ahli Pragmatic & Doktor Bidang Pragmatik Bahasa Inggris), dan Reiza Praselanova (SDM dan Litbang Relawan TIK Jawa Timur & Dosen dan Praktisi Komunikasi Digital).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 172 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.