Capai 12.000 Submitter Pendaftaran DSC 12 untuk Raih Modal Usaha Rp 2 Miliar Ditutup

  • Bagikan

Eksekutif.com,- Diplomat Success Challenge (DSC) 12, kompetisi wirausaha terbesar dan terdepan di Indonesia diinisiasi Wismilak Foundation,  terus menjaring proposal dan ide bisnis potensial dari berbagai daerah di Indonesia.

sejak dibuka pada 19 Juli lalu yang nantinya mendapatkan kesempatan meraih hibah modal usaha total Rp 2 miliar, pendampingan berkelanjutan dari mentor profesional, dan jejaring Diplomat Entrepreneur Network (DEN).

Edric Chandra, Selaku Program Initiator DSC 12, menjelaskan, ”DSC 12 terus mendapatkan respon yang positif dari penggiat UMKM khususnya kaum muda Indonesia yang berani berwirausaha. Hal ini pun diperkuat dari beragam respon penggiat UMKM saat mengikuti berbagai rangkaian roadshow virtual dalam menggali materi aplikatif yang disampaikan oleh wirausaha sukses.”

Sinyal positif ini menandakan bahwa optimisme penggiat UMKM yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, terus bangkit untuk meraih peluang dan siap membuat gebrakan. tutur Edric, (24/10).

Hingga memasuki pekan pertama bulan Oktober, total kami telah menerima lebih dari 11.000 ide dan proposal bisnis. Imbuhnya

Lebih lanjut Edric sangat antusias dengan proposal ide bisnis yang telah terjaring. Edric melihat bagaimana generasi muda Indonesia menunjukkan ‘creative survival’ dengan membuat terobosan ide bisnis yang segar dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Dengan membuka lebar bisnis berbagai kategori apapun, baik itu bisnis yang telah berjalan maupun yang masih dalam ide bisnis saja, diharapkan DSC 12 menjadi solusi yang mewadahi wirausaha Indonesia. Tentu hal ini sejalan dengan tema DSC 12, “Raih Peluang dan Bikin Gebrakan”.

Kompetisi DSC 12 hanya boleh diikuti secara perorangan, bukan beregu. Peserta diperbolehkan mengirimkan ide sebanyak-banyaknya, dengan catatan atas nama perorangan (satu nama), dan proposal yang terpilih tetap hanya satu proposal atas satu nama.

Untuk memperkuat proses seleksi, DSC 12  menghadirkan empat mentor nasional yang terdiri dari empat figur entrepreneur inspiratif dari berbagai industri kreatif.

Mereka adalah Handoko Hendroyono, Co-founder M Bloc Space & Kebun Ide, Helga Angelina, Co-founder Burgreens, Lukman Benjamin, Founder & CEO Cretivox, dan M. Jupaka, Business Strategic Kick Avenue & Brand Director NIION.

Mereka akan terlibat langsung sejak masa inkubasi hingga tahap final. Kompetisi ini juga akan melibatkan dewan juri untuk memilih ide bisnis terbaik. Ketiga dewan juri tersebut diantaranya adalah Surjanto Yasaputera selaku Ketua Dewan Komisioner DSC, serta anggota lainnya, yaitu, Antarina S.F. Amir serta Helmy Yahya.

Unlock The Opportunity : Spirit Membangkitkan Asa Wirausaha  di Tengah Pandemi Direktur Utama Wismilak, Ronald Walla, mengatakan, “Sejak tahun 2010, DSC berhasil memperkuat ekosistem wirausaha di Indonesia. DSC berkomitmen mendukung perekonomian Indonesia dengan mendorong usaha mikro dan melakukan percepatan pemberdayaan UMKM.”

Komitmen ini  mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat melalui sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki dan  Menteri BUMN , Erick Thohir.tegasnya

Dalam sambutan di kegiatan roadshow virtual bertajuk “Unlock The Opportunity”, Teten Masduki mengatakan pemerintah mencanangkan target rasio kewirausahaan nasional di 2021 sebesar 3,95 persen dengan pertumbuhan wirausaha baru sebesar 4 persen. Namun rasio  kewirausahaan Indonesia saat ini masih sekitar 3,47 persen.

“Rasio persentase ini masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Karena itu dibutuhkan kolaborasi antara Pemerintah dan swasta dalam mempersiapkan peningkatan kualitas SDM unggul untuk mewujudkan target tersebut.” papar Teten.

Bisnis Semakin Cuan Berkat Fokus Customer Experience Sebagai Kunci Memenangkan Hati Pelanggan

Sebagai bagian dari edukasi tentang kewirausahaan, DSC 12 juga menggelar serangkaian webinar kepada publik dengan menghadirkan narasumber berpengalaman di bidangnya.

Salah satunya adalah webinar yang bekerjasama dengan MarkPlus Institute bertajuk “Building Service Based Business: How Important is Customer Experience?”.

Hadir sebagai narasumber adalah Indra Gunawan (Co-founder & CEO Bobobox) Yogi Ang (Co-founder & CMO Captain Barbershop), yang berbagi insight bagaimana membangun bisnis berbasis layanan dan jasa.

Hadid Fathul Alam (Founder & CEO OKE Garden) yang merupakan alumni DSC 2019 juga berbagi insight dalam berwirausaha di bidang layanan pertamanan dan testimoni tentang program DSC.

Membangun bisnis berbasiskan layanan atau jasa memiliki tantangan sendiri, salah satunya yaitu bagaimana layanan kita bisa memberikan kepuasan bagi pelanggan.

Untuk memberikan kepuasan tersebut, banyak pelaku bisnis kini semakin memperhatikan strategi customer experience (CX) bisnisnya. DSC 12, kompetisi wirausaha terdepan dan terbesar yang diinisiasi oleh Wismilak Foundation, menghadirkan.

Dalam membangun strategi customer experience, setiap pelaku bisnis harus menawarkan layanan kepada pelanggan tidak saja good experience, melainkan wow experience.

“Keterbukaan informasi di era digital ini, customer senang membagikan pengalamannya ke media sosial, apabila mereka puas akan ‘wow experience.’ Penting bagi pelaku bisnis untuk terus mengevaluasi, ‘Apakah layanan kami telah cukup memberikan wow experience bagi pelanggan ?” ungkap Indra Gunawan yang telah sukses membangun Bobobox, yakni jaringan hotel kapsul yang tengah ‘hype’ dan sedang tren, terutama di kalangan anak muda di Indonesia.

Dalam menciptakan wow experience, lakukan riset terlebih dahulu karena perubahan behavior konsumen selalu terjadi, terutama era pandemi seperti ini. Dari hasil riset yang Bobobox temui, anak muda kini tidak lagi mengutamakan harga, lokasi dan experience, namun lebih memperhatikan hygiene, less crowded dan less touch sebagai faktor utama memilih sebuah penginapan.

Indra  menambahkan wow experience berkaitan erat dengan bagaimana sebuah layanan menciptakan operational excellence, yaitu bagaimana segala sesuatu yang diterima dan dirasakan benar-benar menyesuaikan kebutuhan pelanggan dengan sempurna.

Jangan lupa, terus bangun customer intimacy melalui pendekatan humanis sehingga mendapatkan trust.sambung dia

Menurut Yogi Ang, bisnis berbasis layanan dan jasa, mouth to mouth marketing adalah segalanya, Kiat membangun strategi customer experience pun diperkaya oleh Yogi Ang, sosok sukses dibalik Captain Barbershop, tempat cukur rambut mewah terbesar dengan lebih dari 40 gerai di seluruh Indonesia.

Menurutnya,  mouth to mouth marketing merupakan segalanya. Maka pastikan baik itu produk layanan maupun sumber daya manusia benar-benar memenuhi ekspektasi pelanggan agar berhasil mencuri hati mereka.

Apabila kepuasan telah mencuri hatinya, mereka akan loyal dan tak segan-segan memberikan organic endorsement yang tulus.

Kekuatan organic endorsement ini memang bukan sekadar isapan jempol, terbukti Captain Barbershop sukses menjadi ‘talk of the town’, saat salah satu gerainya dikunjungi rapper berbasis Amerika Serikat, Rich Brian serta Kaesang  Pangarep, putra dari Presiden Joko Widodo.

Sadar akan target audience yang segmented, Yogi berani menjajal B2B (business to business) dengan meng-approach brand-brand besar yang sedang menyasar audience yang sama.

Ia menawarkan kerjasama  melalui benefit value to value. Tercatat Captain Barbershop sukses memberikan added value bagi pelanggan berupa hadiah seperti sepeda motor hingga sepeda lipat dari para sponsor.

Untuk memastikan standarisasi operational excellence dari masing-masing sumber daya manusia, training center memainkan peran penting. Di training center tidak saja mendapatkan pelatihan hard skill, namun yang tidak kalah penting adalah soft skill seperti kemampuan komunikasi dalam berhadapan dengan pelanggan, terutama handling customer complaint. Sehingga memiliki keseragaman SOP (standard operating procedure) dalam memberikan customer experience.

Alumni DSC 2019, Hadid Fathul Alam, memiliki kiat tambahan dalam membangun strategi customer experience, yakni, memahami karakteristik pelanggan terlebih dahulu. Melalui OKE Garden, sebuah startup digital pengelola taman berbasis aplikasi yang dimilikinya, Hadid menganggap kemampuan membaca karakteristik menjadi kewajiban karena selera pelanggan yang subjektif.Setelah membaca karakteristik mereka, lalu ia memberikan referensi konsep taman dan jenis tanaman yang cocok disesuaikan dengan luas lahan dan budget pilihan pelanggan.

Hadid Fathul Alam memanfaatkan jejaring Diplomat Entrepreneur Network untuk menggali referensi dan knowledge taktis dari alumni DSC yang bergerak dalam bisnis pengembangan aplikasi

Hadid pun meyakinkan  generasi muda untuk  tidak ragu terjun dalam bisnis layanan atau jasa.

Menurutnya, setiap wirausaha dengan segala jenis bisnis membutuhkan support system seperti ekosistem yang mendukung.

Atas dasar itulah ia bergabung DSC 2019 yang dinilainya sebagai keputusan tepat sebagai seorang wirausaha. Setelah menjadi bagian dari Diplomat Entrepreneur Network (DEN), ia memanfaatkan betul jejaring para alumni DSC yang fokus akan produk pengembangan software aplikasi.

Tentu dengan referensi dan knowledge yang taktis dari para alumni DSC, membantunya dalam pengembangan misi OKE Garden yakni memperbaiki ekosistem industri jasa taman di Indonesia melalui teknologi.

 111 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.