Bisa Berdampak Buruk, Kenali Seluk Beluk Hoaks dan Cara Mengelolanya

  • Bagikan
Gambar: https://limawaktu.id/

Eksekutif.comSebagai pengguna media digital dan media sosial di era ini, mengatasi hoaks merupakan tanggung jawab bersama. Dalam paparan Lady Kjaernett, Key Opinion Leader, berita bohong atau hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar.

Tujuan hoaks untuk membuat korban merasa tidak aman, tidak nyaman, dan mengalami kebingungan. Hoaks ini berbeda dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop. Berita bohong yang banyak beredar saat ini contohnya mengenai vaksin covid-19 dan konspirasinya.

“Ciri-cirinya, judulnya clickbait yaitu antara judul dan isi tidak berhubugan. Kedua, memeriksa sumber dan menggunakan logika, apakah sumber berita bisa dipercaya. Kita sebagai pengguna jangan menerima informasi bulat-bulat tanpa disaring terlebih dahulu,” ujar Lady Kjaernett, dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021).

Akibat hoaks, banyak korban yang dirugikan. Misalnya, pada berita hoaks mengenai covid-19, terdapat seorang pasien meninggal karena percaya hoaks yang disebar di media sosial kalau vaksin itu berbahasa.

Padahal vaksin sendiri berfungsi sebagai proteksi diri serta meringankan gejala apabila seseorang terkena covid-19. Berpikir kritis dapat membantu kita mengenali dan terhindari dari berita hoaks.

Lanjutnya, sebagai pengguna kita juga memeriksa foto dan video, apakah sesuai atau sudah dimanipulasi oleh pihak tidak bertanggung jawab. Kemudian, melakukan konfirmasi kepada lembaga yang bersangkutan dan memanfaatkan Google untuk menganalisis berita. Melaporkan hoaks menggunakan aplikasi atau platform penyedia aduan, seperti aduankonten.id.

“Pengguna yang bijak akan selalu menyaring informasi sebelum membagikannya. Saring berita juga dapat membantu kita dalam mengurangi hoaks dengan melakukan komparasi dengan berita kredibel. Kalau kita sudah yakin itu hoaks, cukup berhenti di kita. Tujuannya, agar orang terdekat tidak menjadi korban hoaks,” tambahnya.

Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategist, juga mengatakan bahwa tidak percaya hoaks dan tidak menyebarkannya merupakan salah satu upaya dalam membangun budaya digital yang positif.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Dino Hamid (Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia), Vivi Andriyani (Marcomm & Promotion Specialist), Dee Rahma (Digital Marketing Strategist), Roky R. Tampubolon (Praktisi Hukum), dan Lady Kjaernett.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 217 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.