Bahaya Rekam Jejak Digital, Lebih Bijak saat Bermedia Sosial

  • Bagikan
Foto: https://www.boombastis.com

JAKARTA,- Ekosistem digital saat ini semakin sibuk, apalagi setelah masyarakat mengalami masa pandemi. Sebabnya literasi digital diperlukan agar masyarakat memiliki budaya digital yang baik dan mengedepankan toleransi dengan menjaga ruang digital yang aman dan produktif.

“Saat ini telah terjadi pola kehidupan dari offline ke online. Belajar dan bekerja secara online, berkomunikasi dan berinteraksi secara online, bahkan menyimpan file-file penting secara online.

Perubahan itu menjadi peluang jejak digital, saat berbagi kata-kata kasar jadi cerminan diri kita ketika dituangkan di media sosial kita,” kata Program Coordinator SEJIWA, Andika Zakiy, saat webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat I, Kabupaten Purwakarta, Jum’at (11/6/2021).

Andika mengingatkan agar setiap orang menjaga jejak digital, yaitu segala hal yang mencakup semua informasi terkait diri kita yang muncul di internet.

Hal ini bisa berupa banyak hal mulai data pencarian, lokasi, foto, likes, unggahan dan komentar. Padahal menurut data CareerBuilder tahun 2018, sebanyak 70% pemberi kerja menggunakan media sosial untuk menyaring kandidat. Sebanyak 43% employer juga memakai media sosial untuk mengecek pegawai mereka.

“Jejak digital tak dapat dihilangkan secara pernamen, walaupun sudah dihapus bisa saja sudah ada yang meng-capture, Padahal ini semua akan berpengaruh di masa depan. Saat ini HRD sudah mengecek background di sosial media. Itu bisa jadi pertimbangan untuk menolak kita,” ujarnya lagi.

Namun dari semua rekam jejak digital yang pernah ditinggalkan, sebenarnya semua bermula dari kecanduan internet atau menggunakan gadget secara berlebihan di sosial media.

Teknologi kini condong didesain secara khusus untuk memicu pelepasan dopamin. Dopamin, hormon kesenangan yang berkaitan dengan reaksi instan dari sosial media berupa likes, juga saat bermain game online juga menyebabkan ketergantungan ini.

“Kecanduan yang disebabkan internet kini menjadi diagnose medis,” kata Andika lagi.

Jadi bagaimana agar tidak kecanduan?

Andika menyarankan agar setiap orang mengatur penggunaan gadget dan membatasinya dengan mengetahui screen time dan screen break agar tidak mengakses berlebihan. Selain itu terapkan zona bebas gadget di rumah agar terbiasa sibuk dengan kehidupan nyata.

“Penting adanya jeda waktu untuk berinstirahat dalam penggunaan gadget. Karena saat suntuk mungkin kita bisa mengomentari dengan tanpa berpikir,” ujar Andika lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat I Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu CEO The F People Rachel Octavia, CEO Oreima Films Reza Hidayat, dan Bhakti Santana dari TIK Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

https://sociabuzz.com/eksekutif/tribe

 

 301 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.