Aktivis Gender: Patriarki Tak Hanya Merugikan Perempuan, tapi Juga Laki-Laki

  • Bagikan
Gambar: http://kavling10.com

JAKARTA,- Sejak dulu, representasi gender di masyarakat memiliki standart ideal. Berbicara tentang standart tersebut, media lama seperti televisi dan film-film popular Hollywood sudah menggambarkannya dalam sosok ideal perempuan dan laki-laki dari perannya di masyarakat.

Perempuan dan laki-laki diidealkan masyarakat dengan performa perilaku dan bila berbeda dilecehkan masyarakat. Tubuh perempuan adalah medan pertarungan politik abad, tempat ideology dikontestan, ekonomi dipromosikan dan moralitas.

“Di majalah saja contohnya, standar kecantikan juga direpresentasikan basisnya selalu umur dan ketat persaingannya, sementara kalau laki-laki hanya berbicara tentang hobi,” kata Kalis Mardiasi, seorang Aktivis Gender Equality saat webinar Literasi Media wilayah Jawa Barat I, Kota Bogor, Senin (14/6/2021).

Mengenai gender, gambaran paling umum di masyarakat adalah perempuan menikah, lalu punya anak, lalu pakai jilbab. Hal tersebut bisa disimak melalui Instagram bila ada perempuan yang memakai jilbab lalu lepas jilbab atau perempuan yang bercerai mendapat kecaman. Banyak sekali status tubuh dan seksualitas perempuan yang ideal dan tidak ideal di situlah ada komentar yang kasar.

“Saat ini muncul feminitas tradisional yang tampak modern, perempuan boleh berperan di ruang public, tapi harus menikah, harus punya anak, harus memastikan suami dan anak-anak terurus, harus tidak lebih sibuk dari suami,” Kata Kalis lagi.

Namun menurut Kalis sekarang di digital platform eranya sudah mulai berubah dan melawan stereotip itu semua. Jadi kalau masih ada yang primitif mengomentari bentuk tubuh, warna kulit, seseorang akan menjadi musuh.

Hal ini perlu diingatkan juga kepada content creator, bahwa harus harus lebih maju dan lebih beradap dengan tidak melanggengkan stereotip lama mengenai gender tersebut.

“Sekarang ada gerakan single moms Indonesia melawan stereotip istilah janda, kalau dulu janda kan labelnya negative,” tuturnya.

Menurut Kalis, patriarki yang mewajibkan perempuan dan laki-laki harus mengikuti standar masyarakat sebenarnya merugikan.

Sebenarnya bukan hanya perempuan saja yang dirugikan, namun juga laki-laki yang bisa jadi terbebani karena harus mengikuti standar yang ditetapkan masyarakat.

Saat ini kesetaraan gender sudah mulai diperlihatkan dalam content iklan yang cukup bagus. Di mana laki-laki dan perempuan berbagi perannya, tidak seperti dulu di mana ayah membaca Koran lalu ibu menyiapka kopi atau memasak.

“Budaya digital platform harus melihat perempuan yang utuh, bukan dari cantiknya tapi prestasi dan peran lainnya,” ujar Kalis.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat I Kota Bogor merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Founder The Entrepreneurs Society, Co-Founder Mas Pam Records Noor Kamil, Psikolog & Trainer SEJIWA Hellen Citra Dewi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1,049 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *