Adab Etika di Ruang Digital Sama Seperti di Kehidupan Nyata

  • Bagikan
Gambar: https://aptika.kominfo.go.id/

EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Perpindahan interaksi sosial ke ruang digital, tak menghilangkan kepatutan dalam menerapkan adab norma dan etika sewaktu berkomunikasi dengan individu maupun kelompok masyarakat.

Etika berinteraksi di internet tetap diperlukan yang mengatur sistem legal dan moral sebagaimana hal tersebut memengaruhi individu dan masyarakat.

“Kehidupan digital sudah jauh lebih akrab dengan kita. Tidak terlalu banyak perbedaan etika di dalam dunia nyata dan di dalam dunia digital,” sebut Nikita Dompas, Producer & Music Director saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I, pada Senin, (25/10/2021).

Namun survei Microsoft Digital Civility Index 2021 yang dipublikasikan pada Februari lalu mengungkapkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Meningkatnya skor ketidaksopanan pada orang dewasa di Indonesia paling banyak dipicu oleh peningkatan hoaks dan penipuan. Ada kecenderungan orang dewasa yang berperilaku buruk di internet, penyebabnya berkaitan dengan rendahnya tingkat literasi.

Sementara itu Lembaga analisis Katadata Insight Center (KIC) dalam survei di tahun 2020 bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengungkapkan Gen X (usia 40-55) secara umum memiliki literasi digital yang lebih buruk dari kelompok remaja dan milenial muda.

Hal tersebut juga diperparah saat mereka menggunakan media sosial percakapan terutama Whatsapp untuk menyebarkan berita dan informasi.

Pakar media sosial Ismail Fahmi, mengatakan penyebab orang Indonesia lebih berani di media sosial yakni karena dunia maya dan nyata masih dianggap dua hal yang berbeda.

Kebanyakan orang Indonesia sungkan ketika bertatap muka secara langsung, termasuk sungkan menyatakan pendapat. Namun di media sosial jika ada sesuatu yang memunculkan rasa ketidaksetujuan mereka lebih bebas mengutarakan.

“Padahal begitu sedang online seperti halnya di dunia nyata, setiap orang tetap harus saling menghormati saat berinteraksi tak jauh bedanya di dunia nyata,” kata Nikita.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Mochamad Santosa, Owners Imperium Digital, Ira Dyah Loka, Pegiat UMKM, Mona Ratuliu, Founder ParenThink, dan Tabitha Purba, seorang Digigal Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 175 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.