Ada 18.000 Anak Indonesia Jadi Korban Bisnis Seks Online, Orang Tua Perlu Awasi Penggunaan Internet

  • Bagikan
Gambar: https://radarbali.jawapos.com

Eksekutif.comPerkembangan teknologi yang pesat berpengaruh pada kehidupan sosial dan keamanan masyarakat. Tingginya penetrasi pengguna internet membuka peluang munculnya kejahatan siber, termasuk kejahatan siber berbasis pornografi.

Ninik Rahyu, Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021, mengatakan kejahatan berbasis pornografi ini umumnya dialami oleh anak-anak dan perempuan. Alasan perempuan sering menjadi korban pornografi, karena perempuan sendiri sering diposisikan berbeda. Hal tersebut memberi peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

“Anak perlu menjadi konsentrasi perhatian karena hampir 18 ribu anak Indonesia menjadi korban bisnis seks online,” papar Ninik saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (19/7/2021).

Tawarannya makin beragam melalui platform media online seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Contoh paling heboh pada tahun 2012 ialah di Batam terdapat korban seks online dari pelaku di Singapura.

Ia menyampaikan, penyebabnya terdapat banyak pemicu. Di antaranya, kebebasan anak dalam mengakses internet, tidak adanya pengawasan orang tua, kejahatan pelaku anak semakin marak, minimnya kewajiban keluarga dalam memenuhi pendampingan, dan tanggung jawab negara utnuk memastikan perlindungan bagi warganya.

Kejahatan siber ini menjadi isu transnasional yang yurisdiksi hukumnya sulit untuk diterapkan. Korban lain yang paling rentan adalah perempuan. Kejahatan seksual secara siber juga meningkat selama pandemi.

Ia menjelaskan, dalam aturan Undang-undang, tidak ada istilah pelecehan seksual, akan tetapi perbuatan asusila. Lingkupnya juga menyempit hanya pada kasus KDRT antara suami dan istri.

Dalam aturan, jenis pelecehan yang diatur ialah pencabulan, di mana aturan ini harus melibatkan kontak fisik antara pelaku dan korban, sedangkan pelecehan seksual dapat berupa verbal dan non verbal serta tidak selalu melibatkan kontak fisik.

“Di Indonesia, sedang dirumuskan RUU PKS di mana dalam aturan ini mengatur kekerasan seksual. Dalam rancangan aturan tersebut kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan tubuh seseorang dan terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan. Bentuk non fisik ini bisa siulan, kedipan, dan perilaku lain yang mengintimidasi korban,” tambahnya.

Kekerasan berbasis gender adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Kekerasan berbasis gender online (KGBO) merupakan kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi. Korban KGBO berpotensi menjadi korban di dunia online dan offline.

Tujuan pelaku dalam KGBO ini tentunya menyakiti dan merugikan korban. Ini memang sangat beragam. Hubungannya juga bisa jadi terikat dekat seperti suami dan istri. Bentuknya ada cyber stalking, impersonating, cyber hacking, cyber harrasement, cyber recruitment, malicius distribution, revenge porn.

Pencegahan KBGO ini dapat dilakukan dengan bijak menggunakan media soisal, tidak melakukan hal pribadi, tidak menyimpan foto atau video pribadi di gadget, tidak terbujuk oleh pasangan untuk membuat konten pornografi, memahami pendidikan literasi digital, dan mengadakan kurikulum literasi digital di sekolah-sekolah.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Senin (19/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Andry Hamida (Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning), Efrizal Zaida (Praktisi Dosen STT Nurul Fikri), Intan Maharani (COO Positivibe), dan Ladu Kjaernett.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 105 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *