Home
 
OPINI

Share |
Catatan Pinggir FB
Oleh Dimas Supriyanto
Jum'at, 09 Juni 2017 , 06:06:00 WIB
"Masa itu, usia kami ada di antara 25-30-an, kelompok wartawan muda kritis, cenderung idealis, menolak didikte, terutama kepada rezim pemerintah Orde Baru".
  
PANCASILA TANPA PARA PENJAGA, APA BISA? - Awal 1990-an, sebagai calon redaktur, saya mengikuti Penataran P4 pola 100 jam di Samudra Beach Hotel, Sukabumi, Jawa Barat, bersama antara lain, Desi Anwar (dulu RCTI’, kini CNN’), Gatot Triyanto (dulu majalah Gatra, kini Pemred Trans TV’) dan Budi Jojo’ Rahardjo (dulu majalah Matra’ dan kini juga majalah Eksekutif’).

Masa itu, usia kami ada di antara 25-30-an, kelompok wartawan muda kritis, cenderung idealis, menolak didikte, terutama kepada rezim pemerintah Orde Baru. Datang dengan skeptis, tapi harus ikut - karena ikut penataran merupakan syarat naik jenjang kepangkatan.

Tanpa sertifikat dari Penataran P4, kami dipersulit jadi redaktur, sama seperti calon Pemimpin Redaksi di masa itu yang selain ikut P4 juga wajib ikut Lemhanas. Tapi setelah beberapa hari menjalani penataran yang terbuka dengan lalu lintas pendapat, kami tetap meyakini bahwa ideologi Pancasila adalah yang terbaik untuk merekatkan Indonesia.

Menyatukan seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Maka, setelah 25 tahun lewat, saya menyambut baik pembentukan eksekutif Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), yang dilantik Senin (6/6) Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta.

Memang telat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Agak disesali bahwa yang duduk di sana sebagian besar kaum tua, umur 70 tahun ke atas : Megawati Soekarnoputri, Try Sutrisno, Ma'ruf Amin. Judi Latief yang termuda. Tapi dia mumpuni.

Saya sudah banyak baca buku buku dan artikelnya. Dia layak duduk di sana. Semoga darinya, banyak tercetak kader yang militan untuk terus merawat dan menyebarkan nilai nilai Pancasila. Kesannya memang agak lebay. Tapi ketika ilusi negara khilafah yang dijajakan HTI sudah berurat dan berakar di dalam negeri, ormas FPI semakin anarkis, dan giat menjadi polisi agama dengan melancarkan presekusi, militan ISIS sudah di depan pintu, memang hanya itu yang bisa dikatakan : UKP-PIP Pancasila sungguh diperlukan.

SETELAH PULUHAN TAHUN dilepas dari pengawalan, dan penataran-penataran intens, tentang Pancasila, sebagai dasar negara, sebagian masyarakat kini jatuh ke paham intoleran radikal, atau liberal - menjauh dari keIndonesiaan, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang menjadi dasar pemersatu bangsa.

Bahkan di media sosial kini berkembang pikiran, hanya dengan merujuk pada kitab suci dan petunjuknya khususnya Al Quran dan Hadist - kehidupan sosial sudah mencukupi. Pancasila dianggap tak diperlukan lagi.

Paham Wahabi, Salafi, HTI, dan Islam radikal lain, yang intens menanamkan kebenaran tunggal, sejak dekade 1980-90an, dengan mengabaikan kearifan lokal dan nasional, kini tengah panen kader dan sudah menjadi militan makin merasuk dan mencengkeram pola pikir warga kita, bukan hanya kaum menengah bawah yang terbatas pendidikannya, melainkan juga menengah atas yang lumayan intelek.

Intoleransi radikal kini telah naik kelas. Di kalangan intelektual menerima radikalisme karena pengembangan paham juga disertai berbagai program dan guyuran petro dollar yang nyaris tak terbatas. Dalam bermacam bentuk dan programnya. Putusnya diplomatik negara-negara di jazirah Arab dengan Qatar merupakan salahsatu petunjuknya.

Maka saya mendukung upaya pemasyarakatan kembali Pancasila, mengaktualisasi penanaman ideologi Pancasila sesuai kondisi terkini untuk generasi milenial yang akan menjadi penentu masa depan Indonesia, 10-20 tahun ke depan.

Kondisi terkini? Benar. Sebab, di zaman Pak Harto, pemahaman Pancasila dikuasai oleh rezim penguasa masa itu, dimana mereka yang dianggap "paham Pancasila" dan "tidak paham Pancasila" ditentukan oleh Cendana, dan diskursus tentangnya seakan tertutup.

Sesungguhnya ideologi Pancasila hanya lembaran teks, sama seperti teks demokrasi dan kitab suci. Implementasi dalam kehidupan lah yang menjadikannya hidup. Menebarkan semangat. Pembeda kita dengan negara dan bangsa lain.

Artikel Terkait


Comments

Eksekutif Terbaru

Majalah Eksekutif Terbaru
 

Baca juga: