Home
 
BERITA BISNIS

Share |
Indonesia Technology Forum (ITF) Gelar Diskusi Tarif Data
Selasa, 16 Mei 2017 , 22:40:00 WIB
Peraturan sekarang tak memadai lagi dengan perkembangan saat ini. Jika hal itu tidak segera dilakukan, polemik tarif data mahal akan terus berlanjut.
  
MAJALAH EKSEKUTIF. "Hingga saat ini operator seluler kurang memperhatikan daerah perbatasan atau daerah terpencil, hanya satu operator seluler yang konsen. Itu pun dibantu banyak oleh regulasi dan infrastruktur dari pemerintah, sehingga mereka untung tapi pemerintah harus mensubsidi," tutur Rudiantara, Menkoninfo dalam acara seminar bertajuk: "Mencari Format Tarif Mobile Data Ideal".

"Bahwa operator selular lebih senang mengambil segmen pasar di kota besar atau Pulau Jawa dan Sumatera, dikarenakan pasarnya yang empuk. Pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. "Tidak memikirkan ketahanan nasional," kritik Chief RA, sapaan akrab Rudiantara.

Masih dalam konteks pemerataan infrastruktur telekomunikasi, penyediaan jasa akses teknologi informasi dan komunikasi (tik). "Tren pemakaian ponsel cerdas terus meningkat, dari sisi penyelenggara jasa seluler, keuntungan bisnis terus menjadi orientasi," tutur Rudiantara kesal.

Hal ini yang menurut Ketua YLKI, Tulus Abadi, dari kacamata pengguna, layanan data sebaiknya tidak membuat pengguna dalam posisi memilih sesuatu yang pahit karena tak ada layanan lain yang tersedia. Pengguna terkesan hanya menjadi obyek jualan semata tanpa mengindahkan bahwa tak semua orang suka dengan konten yang dibundling dalam paket jualan data.

Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia BRTI, Ketut Prihadi menengahi, bahwa dari sisi ekosistem bisnis semua harus diuntungkan atau win-win solution. Penyelenggara jasa seluler harus mendapatkan keuntungan dari bisnis mobile data agar layanan data tetap berlangsung. Di sisi lain, penyelenggara jasa seluler juga harus melakukan efisiensi agar harga jual data ke konsumen dapat memenuhi keterjangkauan konsumen.

Yessy D Yosetya dalam konteks Asosiasi Telepon Selular Indonesia menyebut masyarakat akan memperoleh layanan mobile data dengan kecepatan maksimal dan harga terjangkau. Tetapi karena iklim bisnis yang sangat kompetitif, operator harus selalu melihat bagaimana kondisi persaingan di lapangan.

Sharief Mahfoedz- Head Of Core Offering Indodat Ooredoo mengatakan, selalu responsif terhadap konsumen. "Melakukan promo-promo untuk menarik pelanggan tetapi kembali lagi kepentingan konsumen harus dikedepankan. Di tengah pasar Indonesia yang membutuhkan komunikasi yang terjangkau (affordable)," ujarnya.

Acara digelar Indonesia Technology Forum (ITF), dalam konteks polemik tarif data menjadi heboh belakangan ini. Mahal kata konsumen. Pemerintah dan Badan Regulasi yang menaungi bisnis tersebut harus cepat melakukan formula kebijakan yang tepat.

Rumusan pun didapat.Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP 53/ 2000 tentang penggunaan spectrum frekuensi radio dan orbit satelit; yang memungkinkan berjalannya sharing kapasitas sangat diperlukan. Kedua peraturan tersebut tidak memadai lagi dengan perkembangan saat ini. Jika hal itu tidak segera dilakukan, polemik tarif data mahal akan terus berlanjut.

Artikel Terkait


Comments

Eksekutif Terbaru

Majalah Eksekutif Terbaru
 

Baca juga:

Alkohol Mengganggu Siklus Tidur
Pers Dan Walikota Ambon Saling Ucapkan Terima Kasih
Melawan Hoax: