Home
 
EVENT

Share |
Kolaborasi Seni Mahasiswa Asean di Belanda
Jum'at, 05 Mei 2017 , 07:32:00 WIB
"Ini saatnya ASEAN bersatu untuk maju karena kita berani untuk bermimpi dan peduli untuk berbagi dalam ASEAN," ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar Belanda.
  
MAJALAH EKSEKUTIF. Yuke Mayaratih dari Belanda melaporkan bahwa Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nijmegen, didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag  berhasil menyelenggarakan Southeast Asian Cultural Event (SEACE) pada 22 April 2017.

Even yang berlangsung di Theater de Lindenberg, Nijmegen ini merupakan acara kolaborasi seni mahasiswa Asia Tenggara pertama di Belanda. Menampilkan beragam seni tarian dan musik dari beberapa negara anggota ASEAN, diantaranya Philippine, Thailand, Vietnam, Malaysia dan Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada PPI Nijmegen yang telah menginisiasi kolaborasi antar mahasiswa dan komunitas Asia Tenggara di Belanda.

"Ini saatnya ASEAN bersatu untuk maju karena kita berani untuk bermimpi dan peduli untuk berbagi dalam ASEAN," ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar Belanda. Beliau juga berharap agar kedepannya mahasiswa ASEAN akan terus bersemangat untuk berkolaborasi satu sama lain.

Rangkaian acara menampilkan anak-anak Indo-di Belanda, dilanjutkan Pililin mo ang Pilipinas yang merupakan tari kontemporer dari Philippine. Hadir pula Vietnamese Acoustic Band memeriahkan acara yang dipadati lebih dari 200 penonton ini.

Acara yang dimulai sejak pukul 11.30 sampai pukul 18.30 ini juga menampilkan Bye Sri Ku Kwan, tari tradisional dari Thailand, Angklung performance dari Indonesia, Pendet Dance, Tari Batak, Pencak Silat dan beberapa pertunjukan lainnya. Selain memanjakan pengunjung dengan rangkaian tari dan music, panitia juga menghadirkan keynote speech dengan judul  yang disampaikan oleh Dr. Martijn Eickhoff.

Diskusi yang menarik ini berceritakan tentang fenomena dari  Colonial Archeologist as Hero. Dr. Eickhoff memaparkan tentang pengaruh kolonialisme dalam penemuan jati diri dan pelestarian kultur di Indonesia dan Asia melalui biografi dari seorang prehistorian Belanda yang bernama Van Stein Callenfels.

Van Stein Callenfels berhasil menggali dan menemukan kultur sejarah Indonesia dan Asia pada kisaran tahun 1920-1930 yang pada akhirnya hasil penemuannya dapat dilihat di Museum Nasional Jakarta. Selain itu, beberapa souvenir khas Indonesia diberikan kepada penonton yang beruntung menjawab kuis seputar ASEAN dari panitia.

Artikel Terkait


Comments

Eksekutif Terbaru

Majalah Eksekutif Terbaru
 

Baca juga:

Alkohol Mengganggu Siklus Tidur
Pers Dan Walikota Ambon Saling Ucapkan Terima Kasih
Melawan Hoax: