Home
 
CSR

Share |
Ruwatan Bumi 21 Mei 2017
Di Kabuyutan Cipageran, Cimahi
Selasa, 18 April 2017 , 16:01:00 WIB
Walikota Cimahi bersama Kasal Ade Supandi dan para sesepuh Kabuyutan.
  
MAJALAH EKSEKUTIF - Upacara Ruwatan Bumi, yaitu ritual manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diperoleh dari hasil bumi sedang disiapkan untuk berlangsung. Merupakan salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat di beberapa daerah di Jawa Barat

Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau ngarawat (bahasa Sunda) yang artinya memelihara atau mengumpulkan serta mengajak masyarakat seluruh kampong berikut hasil buminya untuk dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam taraf pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan tolak bala dan penghormatan terhadap para leluhurnya.

"Pelaksanaan ruwatan bumi ini, juga bisa diartikan hari kebangkitan Kabuyutan, setelah sehari sebelumnya kita merayakan pada 20 Mei hari Kebangkitan Nasional," ujar Dedi Kuswandi dari Kabuyutan Cipageran, Abah Yusuf dari Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Abah Husen dari Cianjur.

Ruwatan bumi sekaligus bersilaturahmi diantara warga, karena setelah ritual keagamaan selesai seluruh warga bergembira-ria ria murak tumpeng sambil ngobrol dan bersenda gurau. "Kami mengundang bapak Kasal Laksamana Ade Supandi, untuk bisa hadir," ujar Dedi Kuswandi, dari kabuyutan Cipageran.

Dedi pun memaparkan tradisi Ruwatan Bumi, yang merupakan salah satu proyeksi dan manifestasi dari kesadaran spiritual atas keberadaan manusia sebagai mahluk lingkungan kepada sang maha pencipta.

Upacara Ruwatan Bumi ini di dalamnya terkandung wujud gotong royong, silatuhrahmi, persaudaraan, kesatuan dan persatuan, kerjasama, perwujudan rasa syukur kepada yang maha kuasa serta sebagai penghormatan kepada para leluhur untuk berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai budaya.

Acara yang akan berlangsung pada 21 Mei 2017 di Cipageran, Cimahi Bandung, diharapkan menumbuhkan rasa dan memupuk persaudaraan diantara berbagai komunitas di Jawa Barat.

Sepertinya, Kabuyutan itu menggambarkan satu miniatur lingkungan yang strukturnya sangat lengkap. Ada Bapak, Ibu, Anak-anak, dan ruang. Masing-masing berinteraksi secara intens, penuh kasih, dan menghasilkan nilai-nilai.Istilah ini terbentuk dari kata dasar buyut.

Adapun kata buyut mengandung dua arti. Pertama, turunan keempat (anak dari cucu) atau leluhur keempat (orang tua dari nenek dan kakek). Kedua, pantangan atau tabu alias cadu atau pamali.

Abah Yusup dari Kabupaten Geger Kalong mengatakan, ada kalanya kabuyutan berfungsi sebagai kata sifat. Kata ini mengandung konotasi pada pertautan antargenerasi, bentangan waktu yang panjang, dan hal-ihwal yang dianggap keramat atau suci.

Kata ini juga bisa berfungsi sebagai kata benda. Dalam hal ini, arti kabuyutan merujuk pada tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral. Wujudnya bisa berupa bangunan, tapi bisa juga berupa lahan terbuka yang ditumbuhi pepohonan.

Di kabuyutanlah orang-orang terpelajar itu menulis naskah, mengajarkan ilmu agama, atau memanjatkan doa.Nilai-nilai menghasilkan tatanan. Tatanan inilah yang menyangga peradaban. Manusia dalam rentang waktu yang panjang, diakui eksistensinya karena mereka membangun peradaban.

Di dalam kata "Peradaban", ada frasa "adab". Adab bisa bermakna tata etika yang didalamnya mengandung seperangkat nilai-nilai. Tanpa nilai, tidak ada "adab". Tanpa "adab", maka tidak ada peradaban. Miniatur kehidupan sebagai kabuyutan, karena didalamnya bukan hanya ada nilai-nilai yang abstraktif, tetapi lebih jauh.

Kabuyutan adalah pusaran utama kehidupan manusia masyarakat anggotanya. Maka merusak suatu kabuyutan bukan hanya merusak suatu lingkungan fisik, tetapi juga menghancurkan segala nilai yang melekat di dalamnya. Nilai-nilai yang telah diendapkan, dan kemudian dikonstruksi berabad-abad itu, dan menjadi energi yang menyangga peradaban manusia, akan hilang.

Terasa atau tidak, seperti magnet yang mengikat manusia untuk tidak kehilangan aqal budi kemanusiaan. Maka wajar jika ada hipotesis yang menyatakan bahwa "menghancurkan kabuyutan, berarti menghancurkan peradaban; Menghancurkan peradaban berarti menghancurkan kemanusian".

Kabuyutan dalam Kosmologi Masyarakat Sunda dahulu merupakan tempat pendidikan moral dan spiritual yang alami (harmonis/ menyatu dengan alam).

Leluhur Sunda telah membangun banyak situs- situs Kabuyutan di berbagai daerah di seluruh wilayah Tatar Sunda biasanya ditempatkan di lokasi yang sangat penting dan menjadi sumber kehidupan manusia diantaranya di sumber mata air, gunung, hutan, pinggir sungai (daerah aliran sungai), bukit, lembah, situ/ embung, telaga, dan tempat-tempat penting lainnya.

Abah Husen dari Cianjur mengatakan, leluhur Sunda sangat cerdas dalam menentukan lokasi-lokasi tempat Kabuyutan itu dibangun oleh karenanya keberadaannya terus dilestarikan oleh masyarakat kampung yang menyadari pentingnya menjaga kabuyutan tersebut sesuai pikukuh/ pepatah leluhur.

Gunung sebagai sumber resapan air dan energi (geothermal) tidak boleh dihancurkan, daerah aliran sungai sebagai sarana irigasi untuk tanaman pangan tidak boleh dirusak, dan aturan moral spiritual tidak boleh dilanggar.

Penjaga Moral peninggalan leluhur jaman dahulu adalah Kabuyutan (pusat pendidikan moral dan spiritual). Leluhur kita ternyata sangat menyadari pentingnya menjaga Kabuyutan tersebut dalam rangka menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan alam untuk memenuhi segitiga kehidupan tersebut.

Artikel Terkait


Comments

Eksekutif Terbaru

Majalah Eksekutif Terbaru
 

Baca juga:

Alkohol Mengganggu Siklus Tidur
Pers Dan Walikota Ambon Saling Ucapkan Terima Kasih
Melawan Hoax: